Berbekal anggrek, Tegiri tembus Jakarta & Bandung...

Di Kota Gaplek, desa menonjolkan hasil pertanian sebagai produk unggulan sudah biasa. Namun berbeda dengan desa lainnya, Desa Tegiri, Kecamatan Batuwarno, justru mengangkat tanaman anggrek dan tanaman hias lain sebagai produk unggulan di desa mereka.

“Di desa kami terdapat enam warga yang membudidayakan bunga anggrek. Usaha ini cukup maju, bahkan pemasaran hasil budidaya mereka sudah sering dikirim ke Bandung dan Yogyakarta,” terang Kepala Desa Tegiri, Rahmawati, kepada Espos di Wonogiri, Minggu (30/11).
Usaha budidaya anggrek, lanjut Rahmawati, mulai berkembang di desanya sekitar awal 2001 silam. Saat itu, salah seorang warga yang merantau ke ibukota, pulang ke desanya dengan membawa bibit anggrek untuk dikembangkan, tak disangka usaha budidaya itu berlangsung cukup sukses dan menginspirasi tetangga sekitar.
Kini, berselang tujuh tahun kemudian, sudah enam warga yang melakukan budidaya secara serius, sementara warganya berusaha mengembangkan hal serupa meski dengan skala yang lebih kecil.
“Sebagian besar warga masih terkendala permodalan. Pasalnya, untuk melakukan budidaya anggrek biaya yang dibutuhkan cukup besar mencapai Rp 10 juta untuk pot, rak serta media tanam anggrek,” terang Rahmawati lagi.
Meski begitu, lanjut dia, pemasaran tanaman anggrek yang diusahakan warga Tegiri diakuinya sudah cukup luas.
Selain, menjadi pemasok anggrek untuk wilayah Solo, para pembudidaya anggrek Desa Tegiri juga memasok tanaman anggrek mereka ke Yogyakarta, Semarang, Jakarta hingga Bandung.

Agak rewel
Satu tanaman anggrek, kata dia, biasanya dihargai antara Rp 12.000 hingga Rp 50.000 bergantung jenis, dan besar kecilnya tanaman.
Anggrek sendiri, dikenal sebagai tanaman yang agak rewel, selain membutuhkan perhatian ekstra dalam perawatan. Agar tumbuh subur, anggrek juga membutuhkan kelembaban yang tepat.
Sebenarnya, sambung Rahmawati, selain budidaya anggrek, penduduk Desa Tegiri juga memiliki potensi berupa produksi panganan ringan seperto keripik kacang, keripik pisang, dan keripik tempe.
Namun, produksi kudapan itu belum terlalu berkembang lantaran minimnya akses pemasaran dan minimnya modal.
“Sebenarnya ada bantuan modal dari pemerintah, namun angsurannya masih dianggap cukup besar. Jadi, para pembuat kripik belum banyak memanfaatkan bantuan tersebut. Kami harap di masa mendatang pemerintah memiliki bentuk bantuan modal lain dengan persayaratan yang sangat ringan,” ujar dia

0 komentar: