KEROKHANIAN SAPTA DARMA




Sujud Asal Mula Manusia

Bila manusia ingin menjadi satria utama

Mulia dalam darma dan agung dalam pekerti

Serta mewujudkan dirinya sebagai brahmavihara

Baiklah ia berkarya dan berbudi pekerti tinggi

Tekun menghayati wewarah dan menjalankan sujud



Sujud Asal Mula Manusia adalah namanya

Karena rokhani yang suci kembali kepada Hyang Suci

Yaitu dengan duduk menghadap ke arah Timur

Yang merupakan lambang purwa kawitan manusia

Serta menjadi arah berputarnya bola dunia



Ke arah Timur itu pula dahulu Panuntun Agung menghadap

Sewaktu diajar bersujud oleh Hyang Maha Kuwasa

Dan ke arah sana pula warga Sapta Darma manembah

Sambil duduk di atas kain sanggar berwarna putih

Kedua tangan bersidakep, yang kanan di sebelah luarnya



Sesungguhnya dalam sujud yang penuh ketekunan

Dalam keadaan hening dan suasana pasrah diri

Terjadilah persatuan yang sangat didambakan

Antara air Perwita Sari dan Sinar Cahaya Allah

Yang menjadi puncak dari upacara manembah



Dari sana pula tercipta suatu daya kekuatan

Yang akan menindas nafsu dan angkara manusia

Memunahkan penyakit dan mencerdaskan pikiran

Menajamkan kewaskitaan, dan yang lebih utama

Mendekatkan hamba kepada Tuhannya



Maka dalam sujud janganlah berpamrih

Ingin melihat wahyu hingga malah berangan-angan

Demikian pula jangan biarkan adanya gangguan

Bukalah mata dan mengucap Asma Tiga

Sambil mengingat sikap tubuh dan jalan getaran



Bila telah duduk dengan hening

Bersila bagi pria dan bertimpuh bagi wanita

Luruskanlah gaya tubuh secara sempurna

Dan masuki alam hening yang indah itu

Benar-benar hening dalam kewaspadaan



Bila rasa berat terkumpul di kepala

Lalu getarannya turun ke pangkal lidah

Dan kemudian terasa di ujung lidah

Serta bibir terasa menjadi tebal

Telanlah air liur dan ucapkan:



Allah Hyang Maha Agung

Allah Hyang Maha Rokhim

Allah Hyang Maha Adil



Rasakanlah getaran halus naik perlahan

Dari tulang ekor menelusuri tulang punggung

Dan awasilah tubuh yang membungkuk ke depan

Agar tetap tegak lurus tidak melengkung

Dengan mata tertutup tetaplah hening



Kurang sejengkal dari tanah tahanlah kepala

Rasakan getaran halus memasuki otak kecil

Lalu ke otak besar dan terkumpul di ubun-ubun

Bila dilihat dengan rasa seperti kukus putih

Yang perlahan mengepul ke atas



Akan ada rasa yang masuk ke puncak kepala

Untuk bercampur dengan air Perwita Sari

Sebagai getaran turun ke pangkal dan pucuk lidah

Semua terasa nikmat sewaktu kening menyentuh tanah

Maka telanlah air liur dan ucapkan di batin:



Hyang Maha Suci Sujud Hyang Maha Kuwasa

Hyang Maha Suci Sujud Hyang Maha Kuwasa

Hyang Maha Suci Sujud Hyang Maha Kuwasa



Bila telah merasakan keagungan Tuhan

Dan keindahan penyembahan jiwa-raga

Tegakkanlah tubuh serta rasakan

Getaran yang turun perlahan

Rasanya dingin waktu meliwati dada



Demikianlah dengan tepat diulang dan dirasa

Pada bungkukan kedua dan ketiga

Hanya ucapannya itu berbeda

Pada bungkukan kedua begini:



Kesalahane Hyang Maha Suci

Nyuwun Ngapura Hyang Maha Kuwasa

Kesalahane Hyang Maha Suci

Nyuwun Ngapura Hyang Maha Kuwasa

Kesalahane Hyang Maha Suci

Nyuwun Ngapura Hyang Maha Kuwasa



Dan demikian pada bungkukan ketiga:



Hyang Maha Suci Mertobat Hyang Maha Kuwasa

Hyang Maha Suci Mertobat Hyang Maha Kuwasa

Hyang Maha Suci Mertobat Hyang Maha Kuwasa



Pada akhir pasujudan Asal Mula Manusia

Dalam keheningan rasakanlah kenikmatan

Dan keindahan dari pengalaman manembah

Lalu usaplah wajahmu dengan kedua tangan

Sebagai tanda usainya sujud

0 komentar: