Begug limbukan di SMAN 1 Jatisrono

Jatisrono
Memperingati HUT ke-20, SMAN 1 Jatisrono menggelar pentas wayang kulit semalam suntuk di lapangan sepak bola kompleks sekolah, Rabu (28/10) malam. Pentas wayang kulit dimainkan oleh ki Dalang Bagong Tarwadi asal Semen, Jatisrono.

Namun pada saat limbukan, Bupati Wonogiri Begug Poernomosidi turun menjadi dalang. Dengan memakai pakaian kejawen komplet, dalang tiban, dia mlekotho pejabat yang mengikutinya. Di antaranya, Sekda H Suprapto, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) H Suparno, Ketua DPRD Wawan Setya Nugraha, anggota Dewan M Zaenudin dan Tuharno, serta Kepala SMAN 1 Jatisrono Suprapto.
Mereka didaulat oleh dalang untuk bernyanyi. Pada adegan limbukan itu pula, Kepala SMAN 1 Jatisorno, Suprapto, menyindir Bupati untuk dipindahkan ke tempat yang lebih dekat dengan tempat tinggalnya di Wonogiri. “Sepekan lalu, muncul berita besar kalau kepala sekolah yang tidak bisa menyanyi akan dicopot. Apakah itu juga akan terjadi pada kami, karena kami tidak bisa bernyanyi,” ujarnya.
Ki dalang yang juga Bupati pun berujar, ”Kalau njarak (menggoda) kenapa tidak?” Akhirnya Suprapto pun menyahut, ”Tidak apa kalau dicopot namun diangkat lagi sebagai Kasek atau digeser lebih dekat dengan tempat tinggal.” Seusai menyatakan hal itu, Suprapto pun menyanyi lagu Nyidam Sari.
Sebelum pentas wayang kulit, mantan Kepala SMAN 1 Pracimantoro itu mengatakan serangkaian kegiatan telah dilaksanakan untuk memeriahkan HUT ke-20, yakni lomba olahraga, kebersihan lingkungan kelas, bakti sosial dan lomba lintas alam. ”Pertunjukan itu bertujuan untuk mempertahankan dan menanamkan budaya asli bangsa Indonesia kepada generasi muda dan menghibur masyarakat.”
Selain itu, SMAN 1 juga membagikan 25 paket Sembako kepada warga sekitar sekolah. Salah seorang tokoh masyarakat Jatisrono, Doweh dan Sutrisno, mengatakan masyarakat menghendaki adanya ruwatan bagi SMAN 1 Jatisrono. “Selama 20 tahun berdiri sudah ada 13 siswa yang meninggal. Karena itu, masyarakat berharap HUT tahun ini bisa digelar ruwatan, namun pihak sekolah tidak mau dan mengganti acara ruwatan dengan doa bersama,” ujar Doweh.


Proyek dermaga Pantai Klotok dipindah ke Waru Duit rakyat Rp 1 M lebih mubazir

Paranggupito
Uang rakyat sebanyak Rp 1 miliar lebih untuk membangun dermaga di Pantai Klotok, Paranggupito mubazir karena proyek itu akan dipindah ke Pantai Waru. DPRD Jateng sendiri mendukung pemindahan itu.

Kepala Desa Ketos, Paranggupito, Sutardi, dihubungi Espso, Kamis (29/10), mengaku kurang memahami dan mengerti kenapa proyek pembangunan penambatan kapal dikerjakan di Pantai Klotok. Padahal ombak di pantai itu dinilai lebih tinggi dibandingkan dua lokasi lainnya seperti Pantai Nampu dan Pantai Waru.
Dia mengatakan saat ini, jalan menuju ke Pantai Klotok dan bangunannya sudah jadi tetapi bangunan yang berada di tepi pantai itu sebagian runtuh karena tidak ada bangunan penahan ombak.
Dia menilai dana yang kucurkan untuk pembangunan tersebut mubazir alias sia-sia karena tidak ada perencanaan yang matang. ”Jelas mubazir karena bangunan yang berada di tepi justru runtuh terbawa ombak,” jelasnya.
Ketika Espos menanyakan ke DPRD maupun Bappeda Wonogiri kenapa yang dipilih dulu Pantai Klotok, tidak ada yang mengetahuinya. Sementara itu, anggota DPRD Jateng meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) untuk menindaklanjuti rencana pembangunan dermaga tambatan kapal di Pantai Waru, Paranggupito. Sebelumnya, DPRD meminta proyek sejenis di Pantai Klotok dibatalkan. Pembangunan alur dan infrastruktur di Pantai Waru memakan dana senilai Rp 150 juta.

Lebih efisien
Menurut anggota Dewan DPRD Jateng, Subandi, berdasarkan hasil survei dan tinjauan lapangan, anggota Komisi B dan D DPRD Jateng akan menyeriusi rencana pembangunan dermaga yang merupakan tambatan kapal di Pantai Waru. Dia mengatakan lokasi dan ombak di Pantai Waru lebih kecil dibandingkan di Pantai Klotok. Jika dermaga dibangun di Pantai Klotok, dibutuhkan dana tidak sedikit untuk membangun pemecah ombak. ”Hasil survei kami sepakat untuk menindaklanjuti dan mengalihkan pembangunan dari Pantai Klotok ke Pantai Waru,” jelas dia ketika dihubungi Espos, kemarin.
Dia mengatakan untuk langkah awal, yang harus dilakukan di antaranya membuat alur tambatan perahu dan pembangunan jalan menuju lokasi tersebut. Menurutnya, proyek di Pantai Waru dinilai lebih efisien dibandingkan melanjutkan proyek di Pantai Klotok. Di samping itu, di Pantai Waru sudah terdapat detail engineering design (DED) sementara di Pantai Klotok, pemerintah harus membuat desain pembangunannya. “Sudah ada DED-nya kok dan lokasi itu lebih tepat untuk dibangun dermaga,” paparnya.
Sementara itu menurut Ketua Komisi II DPRD Wonogiri, Sutrisno, perkiraan pembangunan infrastruktur dan alur tersebut senilai Rp 150 juta. Untuk itu, instansi terkait seperti DPU, Disnakperla, Dinas ESDM & Pengairan segera membuat proposal dan menganalisis kebutuhan yang diperlukan. Dia mengatakan tambatan perahu di Paranggupito akan meningkatkan hasil tangkapan ikan.


Tembang Pucung antar Calhaj ke Mekah

”Lila lamun, kelangan ora gegetun, Trima yen ketaman, Sak serik sameng dumadi, Tri legawa nalangsa ing bathara”
(Rela dan tidak menyesal bila kehilangan, Sabar bila terkena, Syirik dari manusia lain, Ikhlas dan berserah diri kepada Tuhan)


Tembang Pucung itu dilantunkan oleh Bupati Wonogiri H Begug Poernomosidi saat melepas 287 calon haji (Calhaj) Wonogiri. Isi dari tembang itu di antaranya adalah mengingatkan agar manusia ikhlas saat bepergian. Sanak keluarga yang ditinggalkan akan tetap dijaga oleh malaikat.
Dengan tembang Pucung itu, para Calhaj diharapkan tetap berkonsentrasi pada ibadah, tidak perlu mengkhawatirkan keluarganya. Rasa ikhlas akan mendorong pahala dalam setiap ibadahnya. ”Menjadi tamu Allah SWT sangat membanggakan karena di Mekah sana tidak ada pembedaan orang kaya atau miskin. Bahkan ada orang miskin yang justru bisa menunaikan ibadah haji, sementara orang kaya belum. Untuk itu, nikmat syukur dan niat ikhlas akan mengubah segalanya.”
Saat menyatakan kalimat itu, Bupati tidak kuasa menahan haru. Sejenak dia menghentikan pernyataannya dan menghela napas panjang. ”Tembang Pucung ini mengingatkan kita sebagai umat yang harus ikhlas.”
Pelepasan itu dihadiri Kasdim 0728/Wonogiri Mayor (Inf) Mujib, Ketua DPRD Wonogiri Wawan Setya Nugraha, Kakandepag Wonogiri H Suparno, Sekda Wonogiri H Suprapto. Bupati berharap Calhaj Wonogiri menjadi haji mabrur dan meminta mereka mendoakan Bangsa Indonesia. “Kami mohon para Calhaj mendoakan Bumi Pertiwi Indonesia dari bencana, karena hanya dengan doa, semua bencana akan terhindar.”
Sementara itu Kakandepag Wonogiri H Suparno mengatakan ke-287 Calhaj Wonogiri terdiri atas 134 pria dan 153 perempuan. “Calhaj Wonogiri tergabung dalam kelompok terbang (Kloter) ke-24 bersama Calhaj dari Tegal dan akan tiba kembali di Tanah Air, 10 Desember atau selama 43 hari.”
Suparno mengatakan Calhaj Wonogiri tahun 2010 telah terdaftar 301 orang dan 2011 sebanyak 368 orang. Berdasar pemantauan Espos, saat pemberangkatan Calhaj, awan mampu menutup terik matahari. Ke-287 Calhaj dengan menumpang sembilan bus diantar ke Asrama Haji Donohudan.Terik matahari tidak dirasakan oleh para pengantar Calhaj karena cuaca tidak terlalu panas.
Mereka berjajaran dan menunggu di Alun-alun Giri Krida Bakti dan pintu gerbang Pemkab Wonogiri. Tidak semua pengantar para Calhaj bisa memasuki lokasi pelepasan Calhaj di Pendapa Rumah Dinas Bupati, kecuali yang memiliki surat undangan


Tips efektifitas browsing internet di ponsel.

Hai teman,
Admin disini hanya ingin berbagi pengalaman dan ilmu yang mungkin bermanfaat bagi semua.
Jika anda adalah internet mania menggunakan ponsel, inilah tips dan trik untuk mempermudah dan mempercepat konektivitas browser intrernet anda.

- Pastikan gprs anda sudah aktif.
- Pastikan pulsa anda terisi. (Indosat disarankan..karena murah meriah walaupun kadang-kadang lemot)
- Gunakan browser milik pihak ketiga, karena browser bawaan ponsel masih kurang maksimal kinerjanya.
- Referensi browser pihak ketiga untuk ponsel java :



Operamini 4.2 Download


Ucweb 6.3 Donwload


- Referensi browser pihak ketiga untuk ponsel Symbian :



Netfront Download username=cah_jlegong pass= boyres


Ucweb Download username=cah_jlegong pass= boyres

Dengan aplikasi diatas maka anda akan mendapati tampilan sebuah web berformat HTML seperti di PC.
So..Jadilah pintar dari pengalaman.
Saya sekedar berbagi dari pengalaman pribadi..
Kalo ada kesalahan silahkan dikoreksi...
Piss..he..he..he...



Karangtengah Angin ribut terjang 9 rumah

Karangtengah
Hujan disertai angin kencang menerjang sembilan rumah di Desa Ngambarsari, Karangtengah, Wonogiri, Sabtu (24/10) sore. Kerugian akibat peristiwa tersebut mencapai Rp 23 juta.

Menurut Camat Karangtengah, Joko Triyono, melalui Kasi Trantib Kecamatan Karangtengah, Ari Gotama, sembilan rumah yang dihuni sekitar 40 orang, gentengnya porak-poranda diterjang angin ribut. Bencana tersebut terjadi pada pukul 15.00 WIB. Meskipun genteng rumah beterbangan, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. “Kejadian tersebut sangat cepat, hujan begitu deras dan disertai terpaan angin yang kencang sehingga sejumlah rumah gentengnya berterbangan,” jelas dia ketika dihubungi Espos, Senin (26/10).
Selain itu, pohon-pohon yang berada di ruas jalan tumbang lantaran diterjang angin, satu tiang listrik roboh. Menurutnya, PLN telah mengadakan perbaikan terhadap infrastruktur yang rusak tersebut. ”Ada satu tiang listrik yang roboh karena tidak kuat menahan hembusan air,” papar dia.
Ari menambahkan perkiraan kerugian material mencapai Rp 23 juta. Kerusakan rumah telah diperbaiki oleh warga secara gotong-royong dengan menggunakan material yang tersisa. “Karena sebagian rumah gentengnya hilang, simpanan bahan kebutuhan bahan pokok menjadi basah terguyur hujan. Warga masih membutuhkan bantuan Sembako,” paparnya.
Menurut Kaur Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Desa Ngambarsari, Tejo Sumaryoto, sembilan rumah warga yang terkena bencana angin ribut meliputi Paijan, 54; Satino, 55; Mispani, 57; Juri, 48; Keman, 60; Soiran, 50; Kuslin, 46; Paijan B, 56, dan Sukidi, 63. Dia mengatakan kerusakan akibat angin ribut tersebut tidak terlalu berat karena sejumlah bangunan masih dapat digunakan meskipun atapnya rusak. ”Hanya genteng dan atapnya yang rusak sementara bangunan masih dapat digunakan,” jelas dia.
Sebelumnya, Minggu (18/10) pukul 10.00 WIB, sebuah rumah yang berada di RT 3/RW II, Dusun Kerjo, Desa Pule, Kecamatan Jatisrono roboh. Meskipun tidak ada korban jiwa, kerugian material mencapai Rp 15 juta.

Produksi brem Nguntoronadi anjlok

Nguntoronadi
Hasil produksi brem putih khas Nguntoronadi anjlok lantaran pengrajin memilih memanen mangga dan menjualnya ke pasar. Mereka menilai berjualan mangga lebih menguntungkan dibandingkan memproduksi brem.

Untuk memproduksi brem, pengrajin membutuhkan waktu kurang lebih enam hari untuk memproses tape ketan menjadi olahan brem yang siap saji. Dimulai dari proses pengolahan tape ketan, fermentasi hingga mengeringkannya.
Menurut Ketua RT 1/RW V, Tenggar Lor, Nguntoronadi, Suratno, ada 23 pengrajin brem di Nguntoronadi, 10 pengrajin di antaranya berdomisili di Tenggar Lor. Jika musim mangga, sejumlah pengrajin memilih berjualan di pasar daripada memproduksi brem. “Sekarang ini sedang musim mangga sehingga hasil produksi brem justru anjlok dibandingkan bulan sebelumnya,” jelas dia ketika dijumpai Espos di Tenggar Lor, Rabu (21/10).
Dia mengatakan selain menjual hasil kebun sendiri, mangga didatangkan dari daerah lain. Menurutnya, karena sedang panen harga mangga cenderung lebih murah sehingga hasil yang didapatkan lebih menguntungkan. Satu kilogram mangga jenis manalagi dijual ke tengkulak dengan harga Rp 3.500, sementara harga mangga di pasar dapat mencapai Rp 4.500 per kilogram. “Hasil produksi brem pada saat musim mangga anjlok sekitar 30% karena tidak sedikit pengrajin yang beralih berjualan mangga.”
Sementara itu, pengrajin brem, Yati, mengatakan meskipun sejumlah pengrajin beralih profesi, dirinya tetap memproduksi brem walau pesanannya tidak menentu. Memasuki musim penghujan, dia cenderung mengurangi produksi karena pengeringan brem tidak optimal. “Untuk mengeringkan brem butuh sinar matahari. Jika tidak, hasilnya akan kuning. Sehingga, jumlah produksinya dibatasi.”

Pembunuhan pemain Persiwi 2 Terdakwa divonis 15 tahun & 10 tahun

Selogiri
Dua terdakwa kasus pembunuhan pemain Persiwi, Supriyanto alias Baron dan Surono alias Melon harus meringkuk di hotel prodeo cukup lama. Terdakwa Supriyanto dihukum 15 tahun penjara, sementara Surono harus meringkuk di penjara selama 10 tahun.

Supriyanto, warga Kembang RT 3/RW I, Setren, Slogohimo dan Surono, warga Setren RT 02/RW I, Setren, Slogohimo, didakwa merampok dan melukai hingga tewas Tutut Fery Wiyanto, 14 Mei 2009, di Hutan Donoloyo, Slogohimo.
Vonis itu dibacakan oleh ketua majelis hakim Andi Risa Jaya dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Wonogiri, Selasa (27/10).
Vonis dibacakan Andi didampi-ngi Agung Aribowo dan Nyoman Suharta di hadapan dua terdakwa yang didampingi penasihat hukum Slamet Winardi serta jaksa Wahyu Sri Hartani. Sidang juga disaksikan pula oleh Sri Muyekti, ibu korban.
Vonis majelis terhadap terdakwa Supriyanto lebih berat satu tahun dibanding tuntutan jaksa Wahyu dalam persidangan sebelumnya, yakni 14 tahun. Sementara vonis terhadap terdakwa Surono sama dengan tuntutan jaksa.
Vonis terhadap Supriyanto lebih tinggi karena dia yang melakukan pembacokan sebanyak tiga kali terhadap korban. Karena itu, majelis hakim menilainya sadis dan tidak berperikemanusiaan.
Terdakwa Supriyanto yang berkaca-kaca saat mendengarkan vonis itu menyatakan menerima dan selang beberapa menit kemudian terdakwa Surono juga menyatakan menerima. ”Bagaimana dengan jaksa dan penasihat hukum, apakah menerima keputusan ini?” Jaksa Wahyu dan Slamet Winardi pun menerima vonis itu.
Dalam amar putusannya, majelis hakim menyatakan pertimbangan yang memberatkan di antaranya perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat dan mengakibatkan orang lain meninggal dunia, kedua perbuatan terdakwa tergolong sadis dan tidak berperikemanusiaan serta ketiga, terdakwa menikmati hasilnya. ”Yang meringankan, terdakwa sopan dan mengaku terus terang.”
Puas
Atas putusan itu keluarga korban yang menyaksikan persidangan mengatakan puas. ”Ada tambahan satu tahun dari tuntutan jaksa bagi terdakwa Supri,” ujar Sri.
Diberitakan sebelumnya, jaksa penuntut umum (JPU) Wahyu dalam tuntutannya meminta hakim menjatuhkan hukuman 14 tahun penjara kepada Supriyanto dan 10 tahun untuk Surono. Kedua terdakwa maju ke meja hijau karena membunuh pemain Persiwi, Wonogiri, Tutut Fery Wiyanto.
JPU menyatakan kedua terdakwa terbukti melanggar dakwaan primer, yakni Pasal 365 ayat (1), (2), (3) KUHP.

Kronologi pembunuhan Tutut Fery Wiyanto

- Tutut, warga Sanan, waru, Slogohimo, bersama rekan perempuannya, Wahyu Setyaningsih, warga Cangkring, Jatiroto, bertandang ke kawasan Hutan Donoloyo, Watusomo, Kecamatan Slogohimo, Kamis (14/5) pukul 12.00 WIB. Keduanya berboncengan menggunakan sepeda motor Yamaha Mio Nopol B 6330 TEY.
- Datang dua orang, Supriyanto dan Surono, yang merampas harta korban. Kedua pelaku juga melukai Tutut dan Wahyu. Tutut menderita luka di bagian punggung tembus ke jantung, sedangkan Wahyu yang luka di bagian kepala.
- Pelaku kabur dengan membawa lari motor korban. Dalam kondisi luka, Wahyu mencari pertolongan.
- Polisi menemukan sepeda motor korban di Alas Seter, Desa Kembang, Jatipurno, Wonogiri, Jumat (15/5). Malamnya, polisi menangkap pelaku, tukang parkir di Girimanik, Supriyanto alias Suprih alias Baron, 29, warga Kembang RT 3/RWI, Desa Setren, Slogohimo dan Surono alias Melon, 19, petani asal Setren, Slogohimo.

Harley Davidson made in Pracimantoro

Ketekunan, ketelitian dan keuletan (3K) menjadi kunci meraih sukses. Prinsip 3K itu yang pegang oleh Supadi, 35, warga Dusun Gayam, Lebak, Pracimantoro, Wonogiri. Dari keterampilan tangannya, sedikitnya delapan pemuda tetangganya bisa meraih rezeki.

Desa Lebak, Kecamatan Pracimantoro oleh Camat Pracimantoro, Kuswandi, memang dikembangkan menjadi desa kerajinan handicraft. Jika Anda melihat mainan anak-anak, seperti mobil kuno, motor gede Harley Davidson, becak, mobil antik, mobil VW ataupun pesawat terbang dan helikopter di Jalan Malioboro, Yogyakarta, Waduk Gajah Mungkur (WGM) ataupun tempat rekreasi yang lainnya, bisa jadi itu buah tangan Supadi dan tetangganya.
”Ada sekitar tiga pengrajin yang memulai menggeluti kerajinan handicraft,” ujarnya beberapa waktu lalu.
Menurutnya, hasil kerajinan Supadi sering diikutkan dalam pameran-pameran dan telah masuk data kerajinan unggulan Pemkab Wonogiri. Bahkan, ujarnya, saat tim kesenian Wonogiri pentas di Singapura, kerajinan milik Supadi khususnya Harley Davidson dibawa dan laku keras. Harga per biji replika motor gede itu berkisar antara Rp 30.000 hingga Rp 50.000.
Saat ditemui, Supadi menceritakan ketekunannya menggeluti kerajinan bermula saat dia menjadi pegawai di kerajinan sejenis di wilayah Klaten. “Dari pengalaman menjadi tenaga itu, akhirnya kami berpikiran ingin mengubah nasib untuk mandiri. Pengalaman 10 tahun bekerja di tempat orang lain saya jadikan pengalaman dan sejak 1989 mulai mandiri,” ujar ayah satu anak itu.
Lelaki kelahiran Wonogiri, 11 Mei 1975 ini menyebut bahan bakunya limbah kayu sonokeling, mahoni. “Potongan kecil-kecil biasanya dibuang karena sudah menjadi limbah. Namun, bagi kami limbah itu bisa dimanfaatkan untuk dikembangkan menjadi uang. Bahan bakunya tidak sulit karena di Baturetno, Jatisrono ataupun Jatiroto cukup banyak.”
Selain kayu limbah, juga lem Alteco dan kabel kecil. Dia mengaku produksi yang dihasilkan baru setengah jadi karena kongsi dengan pengrajin lain di Yogyakarta. Setiap bulan, tidak kurang 2.000 biji mainan dia dikerjakan. ”Pasar sudah ada, baik ke Bali, Yogyakarta, Jakarta ataupun di dalam Wonogiri.”


Kasus video mesum di Wonogiri

Ngadirojo
Dua pemeran dalam video mesum, Hd, warga Pacitan dan Cd, warga Baturetno ditetapkan menjadi tersangka penyebaran materi pornografi oleh penyidik Polres Wonogiri.
Keduanya tidak ditahan, namun penyidikan terhadap keduanya terus dilakukan pihak kepolisian.

Penegasan itu disampaikan Kapolres Wonogiri AKBP Agus Djaka Santoso melalui Kasatreskrim AKP Sugiyo saat ditemui di Ngadirojo, Rabu (21/10). ”Setelah melakukan penyelidikan dan pemeriksaan saksi-saksi, keduanya ditetapkan menjadi tersangka. Polisi melakukan penyidikan karena adanya laporan dari masyarakat,” ujar Kasatreskrim.
Penyelidikan kasus video mesum itu ditangani penyidik Polres setelah mendapat limpahan dari Polsek Baturetno. “Keduanya sudah lama berteman. Yang laki-laki berperan sebagai pengiring elekton dan yang perempuan sebagai penyanyi. Jika mendapat tanggapan, keduanya selalu berdua dan video itu kelihatannya dibuat pada dua tahun lalu saat si cewek lulus SMA dan dilakukan di sebuah hotel di Solo,” ujar Kapolsek Baturetno AKP Edi Sulistianto kepada Espos saat ditemui terpisah.

Kadus Ngemplak menghilang.Diduga bersama WIL .

Ngadirojo
Menghilangnya kepala dusun (Kadus) Ngemplak, Desa Ngadirojo Kidul, Kecamatan Ngadirojo, Wonogiri menjadi pembicaraan masyarakat sekitar.

Kabar yang berkembang, Kadus yang berinisial AS itu menghilang diduga dengan membawa wanita idaman lain (WIL).

Keterangan yang dihimpun di Ngadirojo, Rabu (21/10), pencarian telah dilakukan, namun hingga berita ini ditulis keberadaan AS belum diketahui. Pihak desa juga telah mengambil langkah-langkah administrasi dan pembinaan. Kepala Desa (Kades) Ngadirojo Kidul, Wiyono mengaku telah dua kali melakukan pemanggilan.
“Kami sudah dua kali melayangkan surat panggilan untuk klarifikasi dugaan perselingkuhan, namun AS belum juga datang. Panggilan kedua kami layangkan Jumat kemarin. Pada panggilan pertama yang datang justru ayahnya sehingga ditunda dan kami berencana memanggil lagi, mudah-mudahan bisa datang dan persoalan cepat selesai,” ujar Wiyono.
Wiyono menegaskan menghilangnya Kadus Ngemplak tidak mengganggu pelayanan masyarakat. “Sekitar tiga pekan ini, AS tidak ada dan sejak itu pula pelayanan ditangani oleh perangkat desa yang lain. Untuk masalah kemasyarakatan, kami yang menggantikan,” tandasnya.
Ada pengaduan
Lebih lanjut Wiyono mengatakan persoalan WIL dan menghilangnya Kadus AS terjadi pada H+4 Lebaran lalu. “Kami melangkah karena ada pengaduan dari orangtua AS. Kami meminta dan berharap seluruh perangkat desa tidak berbuat asusila. Seorang perangkat desa akan menjadi panutan masyarakat, sehingga keteladanan harus ditunjukkan.”
Wiyono menyatakan pihaknya belum berani mencopot karena aturan administratif harus dilalui. Salah seorang tokoh masyarakat, Sutar, mengatakan AS baru sekitar tujuh bulan terpilih sebagai Kadus.
Dia mengaku tidak tahu persis persoalan yang melilit pribadi AS. “Yang kami ketahui, AS sudah memiliki istri dan seorang anak. Tapi katanya lengket dengan seorang janda beranak dua, lebih jelasnya kami tidak paham.”

Motor tergelincir di Bulusulur, pengendara tewas tertabrak minibus

Wonogiri
Kecelakaan melibatkan minibus dan sepeda motor yang berjalan beriringan terjadi di Jl Wonogiri-Ponorogo tepatnya di wilayah Bulusari, Desa Bulusulur, Wonogiri, Kamis (22/10) pagi.

Pengendara sepeda motor bernopol AD 4337 JR, Sri Suwarni, 34, warga Watukarung, Ngadirojo Kidul, Ngadirojo, tewas dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Medika Mulya (RS MM), Bulusulur, Wonogiri.
kejadian itu berlangsung pukul 07.30 WIB saat korban hendak berangkat kerja di Toserba Baru, Wonogiri. Saat itu, korban berjalan beriringan dengan minibus Firdaus bernopol AE 7076 UX yang dikemudikan Dwi Setyobudi, 38, warga Belah, Donorojo, Pacitan, Jatim.
Korban berada di depan minibus dan telah mengambil lajur kiri. “Kedua kendaraan berjalan beriringan dari arah timur. Tiba-tiba motor yang dikendarai korban menepi dan tergelincir dari ruas jalan. Saat oleng, motor korban tertabrak minibus,” kata Joko, warga di sekitar lokasi kejadian.
Akibatnya, korban menderita luka berat. Kapolres Wonogiri AKBP Agus Djaka Santoso melalui Kasatlantas AKP Sukmawati mengkonfirmasi adanya peristiwa tersebut. “Korban luka berat dan meninggal di Rumah Sakit Medika Mulya. Minibus kami tahan dan kami masih melakukan penyelidikan penyebab kecelakaan tersebut,” katanya.

Motor hasil curian dipreteli, rangka ditanam di kandang sapi

Wonogiri
Gara-gara sepeda motor, Ahmad Sohid, 20, warga Gemawang, Jatiroto, Wonogiri dan Supardiyanto, 35, warga Krajan, Gemantren, Kebonagung, Pacitan, meringkuk di tahanan polres Wonogiri.

Saat ditemui Espos di Mapolres Wonogiri, Kamis (22/10), keduanya mengaku tidak tahu kenapa ditahan. Padahal mereka diduga terlibat dalam kasus pencurian kendaraan bermotor (Curanmor). Keduanya dituduh menjadi penadah.
Seperti dikatakan oleh Supardiyanto. Dia mengaku tidak tahu motor yang dibelinya merupakan hasil kejahatan. “Saya waktu itu bilang sama teman, sedang butuh motor. Oleh teman, saya diteleponkan seseorang dan bertemu di sekitar Alas Kethu. Saat itu, saya membeli motor Shogun senilai Rp 1 juta,” ujarnya.
Saat transaksi, dia tidak menaruh curiga kenapa harga motor murah sekali. ”Saya dijemput oleh petugas Reskrim Wonogiri untuk membawa motor ke Polres. Ternyata dijadikan barang bukti dan saya ditahan. Motor itu hanya kami gunakan untuk merumput,” ujarnya.
Cerita hampir sama dikemukakan tersangka Ahmad Sohid. Lelaki yang mengaku baru lulus SMA itu mengaku mengantarkan dua temannya Nks dan Rm yang kini buron. “Saya tidak ikut mengambil motor. Saya hanya mengantarkan dengan berboncengan bertiga. Saya pulang terlebih dahulu, tetapi juga ikut mempreteli motor yang dibawa teman ke rumah.”
Ahmad menceritakan setelah dipreteli, mesin motor ditanam di kandang sapi. Dia tidak mengaku kenapa mesin motor ditanam.

Polisi Wonogiri bongkar kasus curanmor

Wonogiri
Dalam waktu kurang dari dua pekan, jajaran Reskrim Polres Wonogiri berhasil menggulung tiga tersangka kasus pencurian kendaraan bermotor (Curanmor) di Wonogiri. Mereka bukan satu komplotan dan masing-masing mempunyai wilayah operasi berbeda.

Dua tersangka yang masih dalam satu jaringan adalah Kadimo, 37, warga Serut, Nguter, Sukoharjo dan penadahnya, Supardiyanto, 35, warga Krajan, Gemantren, Kebonagung, Pacitan, Jawa Timur serta Ahmad Sohid, 20, warga Gemawang, Brenggolo, Jatiroto, Wonogiri. Tiga tersangka ditahan di Mapolres Wonogiri.
Dua tersangka lainnya yang masih satu komplotan dengan tersangka Kadimo, yakni Mulyadi alias Gareng dan Sujarwo alias Unyil kini menjadi tahanan Mapolres Sukoharjo. Keduanya akan diproses secara hukum di Wonogiri, setelah perkara di Sukoharjo selesai.
Dari tangan kedua tersangka-Kadimo dan Supardiyanto-polisi menyita barang bukti empat sepeda motor, yakni tiga motor Honda Supra dan Yamaha Force One. Sepeda motor Yamaha Force One diduga yang digunakan tersangka dalam melakukan aksi. Sedangkan dari tangan tersangka Ahmad, polisi menahan motor dalam bentuk pretelan.
Kapolres Wonogiri AKBP Agus Djaka Santoso melalui Kasatreskrim AKP Sugiyo saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (22/10), menceritakan tiga tersangka ditangkap dalam waktu berbeda dalam bulan Oktober ini. “Tersangka Kadimo dan penadah Supardiyanto merupakan komplotan Curanmor di Wonogiri. Komplotan itu melakukan aksinya dengan menggunakan kunci T saat mengambil motor korban.”
Kasatreskrim menjelaskan tersangka Kadimo merupakan satu komplotan dengan dua tersangka yang kini ditahan di Sukoharjo, Mulyadi alias Gareng dan Sujarwo alias Unyil. Mereka membawa kabur dua motor. Yakni motor Suzuki Shogun bernopol AD 6094 CH milik Suradi, 30, warga Waleng, Girimarto, Wonogiri dan motor Honda Supra bernopol AD 6371 DR milik Waluyo Pujianto, 27, warga Gunung Kukusan, Giriwono.
Sementara, tersangka Ahmad terlibat dalam komplotan Curanmor dua pelaku yang kini masih buron, Nks, warga Magetan dan Rm, warga Jatiroto, Wonogiri. Ahmad terlibat dalam Curanmor di tempat praktik dr Aug Djarot, Slogohimo.

Kasus korupsi.Kejari panggil ketua DPRD Wonogiri

Awal bulan, 2 tersangka dipanggil
Jaksa periksa Ketua DPRD

Wonogiri
Kejari, Jumat (23/10), memeriksa Ketua DPRD Wonogiri, Wawan Setya Nugraha, sebagai saksi korupsi dana fraksi yang dititipkan ke pos Kantor Kesbanglinmas (sekarang Badan Kesbangpol & Linmas ) tahun anggaran 2004.

Selain Wawan, saksi dari partai politik (Parpol) penerima dana bantuan fraksi yang dimintai keterangan di antaranya Sardi dan Sutrisno dari Partai Golkar dan Sugimin Djoko Suwondo, mantan Ketua DPRD. Kepala Kejaksaan (Kajari) Wonogiri, Sukaryo melalui Kasi Tidak Pidana Khusus (Pidsus), Dian Frits Nalle, mengatakan ada beberapa mantan anggota Dewan dan anggota Dewan yang masih aktif minta penundaan jadwal pemeriksaan karena ada agenda yang tidak dapat mereka tinggalkan. Dia mengatakan setelah pemeriksaan Wawan pada Senin (19/10) lalu ditunda, yang bersangkutan memenuhi undangan, kemarin.
“Kami hari ini (kemarin-red) memeriksa salah seorang saksi dari PDIP yaitu Wawan untuk dimintai keterangan lebih lanjut mengenai dugaan kasus dana fraksi,” jelas dia di ruang kerjanya.
Dia mengatakan pertanyaan yang dilontarkan kepada yang bersangkutan berkisar soal alur penyaluran dana fraksi tersebut. Dari hasil pemeriksaan sejumlah saksi tersebut, sambung Frits, tim belum dapat menyimpulkan sebelum semua tahap pemeriksaan terlampaui. Dia mengatakan ada beberapa anggota Dewan dari PDIP yang meminta izin menunda Jadwal pemeriksaan di antaranya anggota DPRD Jateng Joko Purnomo, anggota DPRD Wonogiri Setyo Sukarno dan Martanto. “Pemeriksaan akan disesuaikan dengan jadwal yang bersangkutan,” papar dia.
Diperiksa bersama
Rincian dana fraksi yang dinilai bermasalah tersebut tersalur ke FPDIP senilai Rp 39 juta, Fraksi Partai Golkar Rp 13,5 juta, Fraksi Amanat Keadilan dan Persatuan (FAKP) Rp 7,5 juta dan Fraksi TNI/Polri Rp 7,5 juta. Dua nama yang terseret sebagai tersangka pada kasus tersebut yaitu mantan Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Ige Budiyanto dan mantan Kepala Kantor Kesbanglinmas Sudarno. Frits mengatakan dua tersangka tersebut akan mulai diperiksa awal November. “Kedua tersangka akan diperiksa secara bersamaan,” jelasnya.
Menurut Wawan, pemeriksaan pertama sempat ditunda. “Saya hadir sebagai saksi atas panggilan kejaksaan,” paparnya.


Doa dan puji syukur Admin.




24102009-00.01

Allah Hyang Maha Agung
Allah Hyang Maha Rahim
Allah Hyang Maha Adil
Hyang Maha Suci sujud Hyang Maha Kuwasa

Paringono berkah keselametan..
Paringono agunging kawicaksanan..
Paringono panglipuring sungkowo..
Paringono yuswo ingkang migunani...
Paringono manah ingkang becik
Paringono lampah ingkang padhang..

SALAM WARAS....!!!!

Detik terbaru dimulai...
Kemarin, lusa dan hari ini untuk esok...
Dengan menyebut asma Allah...
Mulai menapaki umur baru....

Berharap bahwa titik terendah telah terlewati..
Berharap titik tertinggi segera dinikmati...
Kebodohan menjadi karang yang telah pecah..
Kesalahan menjadi batu sandungan yang telah tersingkirkan...
Kegagalan menjadi batu loncatan ke masa depan gemilang...
Keberanian meluluh lantakan ketakutan..
Pengorbanan adalah upeti kepada hidup...

Dan Tuhan menjadi tujuan akhir...




Daftar Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II 2009-2014



1. Menko Polhukam: Djoko Suyanto, tim SBY
2. Menko Perekonomian: Hatta Rajasa, PAN
3. Menko Kesra: Agung Laksono, Golkar
4. Menteri Sekretaris Negara: Sudi Silalahi, tim SBY
5. Menteri Dalam Negeri: Gamawan Fauzi, Gubernur Sumatera Barat

6. Menteri Hukum dan HAM: Patrialis Akbar, PAN
7. Menteri Keuangan: Sri Mulyani, profesional
8. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral: Darwin Saleh, Demokrat
9. Menteri Perindustrian: M.S Hidayat, Golkar
10. Menteri Perdagangan: Mari Elka Pangestu, profesional
11. Menteri Kehutanan: Zulkifli Hasan, PAN
12. Menteri Kelautan dan Perikanan: Fadel Muhammad, Golkar
13. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi: Muhaimin Iskandar, PKB
14. Menteri Pekerjaan Umum: Djoko Kirmanto, profesional
15. Menteri Kesehatan: Endang Rahayu Sedyaningsih, Dokter,Depkes
16. Menteri Pendidikan Nasional: M Nuh, profesional
17. Menteri Sosial: Salim Segaf al Jufrie, PKS
18. Menteri Agama: Suryadharma Ali, PPP
19. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata: Jero Wacik, Demokrat
20. Menteri Komunikasi dan Informatika: Tifatul Sembiring, PKS
21. Menteri Negara Riset dan Teknologi: Suharna Surapranata, PKS
22. Menteri Negara Koperasi dan UKM: Syarief Hasan, Demokrat
23. Menteri Negara Lingkungan Hidup: Gusti Muhammad Hatta, profesional
24. Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak: Linda Agum Gumelar,          Ketua Umum Kowani
25. Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara: EE Mangindaan, Demokrat
26. Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal: Helmy Faishal Zaini, PKB
27. Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara: Mustafa Abubakar, profesional
28. Menteri Negara Perumahan Rakyat: Suharso Manoarfa, PPP
29. Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga: Andi Mallarangeng
30. Kepala BIN: Sutanto, mantan Kapolri
31. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal: Gita Wirjawan, profesional
32. Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara: Mustafa Abubakar, profesional
33. Menteri Negara Perumahan Rakyat: Suharso Manoarfa, PPP
34. Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga: Andi Mallarangeng
35. Kepala BIN: Sutanto, mantan Kapolri
36. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal: Gita Wirjawan, profesional
37. Jaksa Agung: belum dipastikan, namun diduga Hendarman Supandji tetap akan menduduki          posisinya.

Pemkab berkeras cabut dua Perda soal PNS


Wonogiri
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonogiri berkeras mencabut dua peraturan daerah (Perda) yang dinilai tidak relevan untuk dilaksanakan.

Mengenai dana prestasi pegawai negeri sipil (PNS) yang pensiun, hal tersebut akan disesuaikan dengan keuangan daerah.


Bupati Wonogiri, Begug Poernomosidi, mengatakan pencabutan Perda No 16/2002 tentang pemberhentian PNS secara otomatis akan berpengaruh terhadap perpanjangan batas usia pensiunnya dari 56 tahun menjadi 60 tahun.
Dia mengatakan dengan pencabutan Perda tersebut, Bupati selaku pembina kepegawaian daerah akan lebih fleksibel dalam mengambil kebijakan, termasuk membatasi usia pensiun PNS eselon II pada usia 56 tahun atau memperpanjang hingga 60 tahun sesuai dengan situasi dan kondisinya.
”Tetapi bukan keharusan, sehingga tidak akan menghambat regenerasi struktural di bawahnya,” papar dia ketika menyampaikan jawaban Bupati Wonogiri atas pemandangan umum fraksi DPRD di Gedung Dewan, Senin (19/10).
Menjawab kekhawatiran anggota Dewan akan ada sikap subjektif pimpinan dalam penundaan pensiun, Begug mengatakan berdasarkan surat edaran Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara No SE/04/M- PAN/03/2006, disampaikan mekanisme usulan perpanjangan batas usia pensiun eselon II ditetapkan setelah mendapatkan pertimbangan Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan (Baperjakat).
“Sehingga insya Allah unsur subjektivitasnya dapat dihindari,” jelas dia.
Sementara itu, pertimbangan pencabutan Perda No 62005 tentang pemberian prestasi kerja bagi PNS yang pensiun adalah faktor yuridis formal, di mana tercantum dalam Permendagri terdapat landasan pemberian tambahan penghasilan bagi PNS.
Dia menambahkan apabila Perda tersebut dicabut maka akan menambah kemampuan keuangan daerah terhadap belanja lainnya. ”Secara normatif Perda itu masih berlaku sehingga penghargaan prestasi kerja seharusnya tidak ditarik kembali,” papar dia.


Pedagang didata menjelang perpindahan Terminal

Wonogiri
Pengerjaan terminal baru tipe A Wonogiri di Krisak, Singodutan, Selogiri baru dimulai.

Namun Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informasi (Dishubkominfo) sejak awal telah melakukan pendataan pedagang dan memetakan atau mapping rute angkutan kota (Angkuta) dan maupun angkutan desa (Angkudes).
Pendataan dan mapping dilakukan agar saat terminal selesai, tidak muncul permasalahan. Selain itu, sepanjang jalan keluar terminal pun akan disterilkan dari lokasi pemberhentian kendaraan atau ngetem.
Penegasan itu disampaikan Kepala Dishubkominfo Ige Budiyanto saat ditemui Espos di kantornya, Jumat (16/10).

“Pendataan pemilik kios di Terminal Giri Adipura maupun Terminal Krisak sudah dilakukan. Database sudah ada dan tinggal pencocokan. Para pedagang itu akan mendapat prioritas menempati kios baru di terminal baru. Para pedagang juga memiliki tanggung jawab kebersihan lingkungan. Tidak diperkenankan membuang air atau sampah di pelataran terminal karena di belakang kios sudah dibangun kanal pembuangan limbah,” ujar Ige didampingi pegawai Tata Usaha Terminal Giri Adipura, Wonogiri, Agus Hasto ”Glempo”.
Lebih lanjut mantan Kepala BPKD Wonogiri ini menjelaskan pendataan dan mapping rute menjadi fokus utama. Pemilik kios saat ini tercatat 73 orang, terdiri atas pemilik kios di Terminal Giri Adipura sebanyak 53 orang dan di Terminal Krisak 20 orang. “Di terminal baru nanti tidak ada penjual di selasar, semua menempati kios.”
Mengenai rute kendaraan, Ige mengatakan “Sebenarnya untuk rute Angkuta sudah ada. Saat ini, petugas mendata lagi dan semua Angkuta akan dipasangi stiker rute, agar perjalanan Angkuta tidak menumpuk di satu jalur seperti sekarang ini. Rute itu juga menjadi persyaratan untuk mengurus kir. Jika tidak dilampirkan, tidak akan dilayani. Selain itu, dengan adanya stiker rute, pemilik atau kru Angkuta bisa saling mengawasi.”
Lebih lanjut Ige menjelaskan pemetaan juga dilakukan untuk kelas jalan, baik jalan nasional, provinsi, kabupaten atau kampung/desa. ”Jika rute Angkuta atau Angkudes sudah tertata dan jelas, namun ternyata kelas jalan tidak sesuai dengan jenis kendaraan yang melewati maka akan menjadi persoalan baru. Untuk itu, kelas jalan dan rute akan disesuaikan.”


8 Orang ditangkap Judi di arena jagong bayen berakhir di kantor polisi...


Delapan warga Kismantoro dan Manyaran itu duduk lesehan di ruang Reskrim Polres Wonogiri, Jumat (16/10). Sesekali mereka menundukkan kepala dan tidak lama kemudian menengadah, lalu memperhatikan Kasatreskrim AKP Sugiyo.

Mereka adalah tersangka kasus perjudian, yaitu Mustangin, 40, Sutino, 34, dan Suwanto, 23, ketiganya warga Gunungan, serta Tukiran, 54, warga Pengkol, Pijiharjo, Manyaran. Keempatnya ditangkap saat menggelar judi remi di pangkalan ojek Desa Gunungan, Manyaran, Wonogiri.
Empat tersangka lainnya adalah Parmin, 52, Sugito, 35, Prajianto, 39, dan Parno, 37, semuanya warga Gudangan, Kismantoro, Wonogiri. Keempatnya ditangkap saat berjudi dadu kopyok di rumah Parno. Rumah Parno saat itu menggelar hajatan kelahiran anak ketiga.

Kedelapan warga itu terkadang menjawab bersamaan dari pertanyaan Kasatreskrim. ”Kami foto dan ditulis wartawan itu biar kamu semua jera. Jika keluar beritanya, beli koran dan dikliping biar di Wonogiri tidak ada lagi perjudian. Biasanya, para penjudi itu mengatakan tidak akan mengulangi lagi saat di sini (Polres) tapi buktinya di Wonogiri masih banyak yang tertangkap,” ujar Kasatrekrim mewakili Kapolres Wonogiri AKBP Agus Djaka Santoso.
Di hadapan mereka, Kasatreskrim juga mengingatkan agar keluarga dan tetangga yang sempat menjenguk untuk tidak mudah memberi uang kepada orang yang mencatut nama Kapolres atau Kasatreskrim. “Keluarga dan tetangga diingatkan, jangan memberi uang kepada seseorang yang datang dan menawarkan akan membantu. Ujung-ujungnya mencatut nama Kapolres dan Kasatreskrim, terkadang juga mengatasnamakan wartawan. Sudah uang diberikan, tetapi kenyataannya tidak bisa menolong, kan semakin kasihan.”
Mendengar penuturan Kasatreskrim, mereka pun serentak mengatakan,”Iya Pak.”
Parno menuturkan tuan rumah tidak ikut main judi. ”Saya hanya menerima sekali uang cuk senilai Rp 25.000,” kata Parno.
Selain menahan tersangka, polisi juga mengamankan barang bukti berupa alat perjudian dadu dan remi serta uang senilai Rp 353.000 terdiri atas barang bukti perjudian remi senilai Rp 133.000 dan perjudian dadu senilai Rp 220.000.
Tukiran dan Mustangin mengaku sebagai belantik sapi dengan keuntungan tidak menentu, terkadang Rp 200.000 hingga Rp 300.000. “Namun kadang juga nombok karena belantik tidak mesti untung,” ujar Mustangin.
Tukiran mengatakan judi remi di pangkalan ojek itu dilakukan sembari menunggu pakan ternak.


Didera sedimentasi, kapasitas WGM turun 36,9 juta m3


Kapasitas Waduk Gajah Mungkur (WGM) mengalami penurunan sampai 36,9 juta meter kubik selama dua dasawarsa terakhir lantaran sedimentasi dari enam daerah aliran sungai (DAS) mencapai 2 juta m3-3 juta meter kubik per tahun.

Kontribusi sedimentasi terbesar berasal dari DAS Keduwang yang mencapai 1,2 juta meter kubik per tahun.


Penegasan itu disampaikan Koordinator Wilayah (Korwil) Perum Jasa Tirta I Sungai Bengawan Solo, Ir Suwartono, saat dijumpai Espos, Jumat (16/10), di ruang kerjanya. Kendati tinggi sedimentasi WGM mencapai 131 meter di atas permukaan air laut, terangnya, volume air di WGM masih memadai, yakni sebanyak 99 juta meter kubik dengan ketinggian air rata-rata 128 meter di atas permukaan air laut.
”Hanya, pengoperasian turbin pembangkit listrik tenaga air (PLTA) memang tidak dioperasikan sejak musim kemarau hingga datangnya musim penghujan. Penghentian operasi turbin PLTA itu disebabkan kurangnya volume air yang dibutuhkan untuk menggerakkan turbin karena endapan sedimentasi cukup tinggi di WGM, terutama dari DAS Keduwang yang memberikan pasokan sedimentasi paling besar dari enam DAS yang masuk ke WGM.”
Keenam DAS itu DAS Keduwang, Tirtomoyo, Solo Hulu, Wuryantoro, Alang/Ngunggahan dan Temon. Jika dibandingkan kondisi WGM yang masih normal pada 1987, ungkapnya, kapasitas volume air di WGM mengalami penurunan sampai 36,9 juta meter kubik dengan perbandingan volume air pada 2008 sebesar 88,5 juta meter kubik, sedangkan volume air WGM pada1987 sebesar 125,4 juta meter kubik.
Untuk mengembalikan kondisi waduk pada posisi normal, lanjut dia, dibutuhkan dana sampai triliunan rupiah. Dia menjelaskan pengerukan sedimen menggunakan peralatan sendiri saja menghabiskan dana di atas Rp 10.000/meter kubik. ”Bisa dikalkulasi sendiri. Jika untuk mengeruk sedimen sebanyak 100.000 meter kubik saja, membutuhkan dana sampai Rp 1 miliar. Apalagi sedimen itu sampai jutaan m3, pasti sampai triliunan rupiah. Besarnya sedimentasi itu memang menjadi problem tahunan. Namun kami sudah berupaya memberikan penyadaran kepada masyarakat. Penanganannya bisa melalui penghijauan, vegetasi dan sebagainya.”

Data Waduk Gajah Mungkur

Tinggi muka air (TMA)
128,67 m

Sounding tahun 2008
Volume 88.510.308 m3

Sounding tahun 1987
Volume 125.430.000 m3

Delta
36.919.692 m3


Disoal, sister city dengan Wuming tak ada kabar

Wonogiri
Anggota Dewan mempertanyakan perkembangan proyek sister city (kota kembar) antara Pemkab Wonogiri dengan Wuming, Provinsi Guangxi, China. Dalam kerja sama itu, rencana pembangunan kawasan industri dilakukan secara bertahap selama tiga tahun.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Espos, jalinan kerja sama itu terhitung mulai 2008 hingga 2011. Proyeksi investasi China difokuskan di beberapa bidang di antaranya industri, pertanian dan pariwisata. Total dana investasi untuk pembangunan kawasan industri tersebut telah disetujui Menteri Perdagangan China senilai Rp 51 triliun.

Proyek pembangunan di Kota Gaplek di akhir masa kepemimpinan Bupati Begug Poernomosidi dinilai masih menyisakan pekerjaan rumah, di antaranya masalah kerja sama sister city. Menurut anggota Dewan, Sriyono, kerja sama antara Wuming-Wonogiri dipertanyakan sampai mana kerja sama itu. Padahal antusiasme masyarakat Wonogiri menyambut kerja sama itu dinilai tinggi.
”Semua membicarakannya tapi sekarang ini menjadi cibiran, ini merupakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan,” jelas dia ketika menyampaikan pandangan Fraksi PDIP dalam rapat paripurna mengenai pertanggungjawaban pelaksanaan APBD 2008 di gedung DPRD, Jumat (16/10).

Masih berlanjut
Sementara itu, menurut Kepala Bagian Kerja Sama Wonogiri, Teguh Setiyono, proyek tersebut masih berlanjut mengingat antara kedua belah pihak telah terjalin memorandum of understanding (MoU) alias nota kesepahaman. Pada rapat interdep (antardepartemen), belum dipastikan kapan kedatangan tim China untuk mengunjungi lahan yang akan dijadikan kawasan industri itu.
Tidak hanya kawasan industri, sambung dia, kerja sama di bidang pertanian seperti mengoptimalkan potensi ketela pohon menjadi nota kesepahaman antara kedua belah pihak. “Perlu diingat bahwa kerja sama antara dua negara jauh lebih rumit dan kami berupaya menjalin kerja sama melalui prosedur,” jelas dia.


Hikayat Pangeran Sambernyawa (RM. Said - KGPAA Mangkoenagoro I)


Latar Belakang

Benteng Keraton Mataram Kartasura roboh. Tembok setinggi empat meter dan tebal dua meter itu dibobol laskar pemberontak Cina. Paku Buwono II, raja Mataram kala itu, melarikan diri ke Ponorogo, Jawa Timur. Keraton yang terletak sekitar 10 km di barat kota Solo itu lalu diduduki pasukan Cina pimpinan Mas Garendi, alias Sunan Kuning, pada 30 Juni 1742. Geger Pecinan ini berawal dari pemberontakan orang-orang Cina di Batavia melawan kekuasaan Kompeni. Mereka menggempur Kartasura. Kerajaan Jawa ini dianggap boneka Belanda. Sejak pasukan Cina mengepung Istana Mataram, awal 1741, sejumlah bangsawan sudah meninggalkan Keraton. Pangeran Puger, misalnya, membangun pertahanan di daerah Sukowati, Sragen, melawan Belanda. Mangkunegoro, yang ketika itu berusia 19 tahun dan masih bernama RM Said, membangun pertahanan di Randulawang, sebelah utara Surakarta, Ia bergabung dengan laskar Sunan Kuning melawan Kompeni. Said diangkat

sebagai panglima perang bergelar Pangeran Perang Wedana Pamot Besur. Ia menikah dengan Raden Ayu Kusuma Patahati. Adapun Pangeran Mangkubumi justru lari ke Semarang, menemui penguasa Belanda dan meminta dirinya dirajakan. Kompeni menolak permintaan itu. Ia kemudian bergabung dengan Puger di Sukowati. Berkat bantuan Belanda, pasukan Cina diusir dari Istana Kartasura, enam bulan kemudian, Paku Buwono II kembali ke Kartasura mendapatkan istananya rusak. Ia memindahkan Istana Mataram ke Solo (Surakarta). Kebijakan raja meminta bantuan asing itu, ternyata harus dibayar mahal. Wilayah pantai utara mulai Rembang, Jawa Tengah, hingga Pasuruan, Surabaya dan Madura di Jawa Timur harus diserahkan kepada Kompeni. Setiap pengangkatan pejabat tinggi Keraton wajib mendapat persetujuan dari Kompeni. Posisi raja tak lebih dari Leenman, atau “Peminjam kekuasaan Belanda”. Pangeran Mangkubumi, akhirnya kembali ke Keraton. Tapi Puger dan Mangkunegoro tetap melawan Mataram dan Kompeni. Kemelut Mataram masih terus berlanjut. Paku Buwono II meminta Mangkubumi meredakan pemberontakan dengan janji akan diberi kekuasaan belakangan. Mangkubumi merasa dikhianati, karena tanah lungguhnya dikurangi.

Mangkunegoro Mengangkat Raja

Pangeran Mangkubumi lalu bergabung dengan Mangkunegoro, yang bergerilya melawan Belanda di pedalaman Yogyakarta, Mangkunegoro dalam usia 22 tahun, dinikahkan untuk kedua kalinya dengan Raden Ayu Inten, Puteri Mangkubumi. Sejak saat itulah RM Said memakai gelar Pangeran Adipati Mangkunegoro Senopati Panoto Baris Lelono Adikareng Noto. Nama Mangkunegoro diambil dari nama ayahnya, Pangeran Aryo Mangkunegoro, yang dibuang Belanda ke Sri Langka. Ketika RM Said masih berusia dua tahun, Aryo Mangkunegoro ditangkap karena melawan kekuasaan Amangkurat IV (Paku Buwono I) yang dilindungi Kompeni. Mungkin karena itulah, Said berjuang mati-matian melawan Belanda. Melawan Mataram dan Belanda secara bergerilya, Mangkunegoro harus berpindah-pindah tempat. Ketika berada di pedalaman Yogyakarta ia mendengar kabar bahwa Paku Buwono II wafat. Ia menemui Mangkubumi, dan meminta mertuanya itu bersedia diangkat menjadi raja Mataram. Mangkubumi naik tahta di Mataram Yogyakarta dengan gelar Kanjeng Susuhunan Pakubuwono Senopati Ngaloka Abdurrahman Sayidin Panotogomo. Penobatan ini terjadi pada “tahun Alip” 1675 (Jawa) atau 1749 Masehi. Mangkunegoro diangkat sebagai Patih –perdana menteri– sekaligus panglima perang dan istrinya, Raden Ayu Inten, diganti namanya menjadi Kanjeng Ratu Bandoro. Dalam upacara penobatan itu, Mangkunegoro berdiri di samping Mangkubumi. Dengan suara lantang ia berseru, “Wahai kalian para Bupati dan Prajurit, sekarang aku hendak mengangkat Ayahanda Pangeran Mangkubumi menjadi raja Yogya Mataram. Siapa dia antara kalian menentang, akulah yang akan menghadapi di medan perang” meski demikian, pemerintahan Mataram Yogyakarta berpusat di Kotagede itu tidak diakui Belanda. Setelah selama sembilan tahun berjuang bersama melawan kekuasaan Mataram dan Kompeni, Mangkubumi dan Mangkunegoro berselisih paham, pangkal konflik bermula dari wakatnya Paku Buwono II. Raja menyerahkan tahta Mataram kepada Belanda. Pangeran Adipati Anom, putera Mahkota Paku Buwono II, dinobatkan sebagai raja Mataram oleh Belanda, dengan gelar Paku buwuno III, pada akhir 1749.

Munculnya Pangeran Samber Nyawa

Setelah Pakubuwono III bertahta, Kompeni berhasil menarik Mangkubumi ke meja perundingan, hasilnya adalah “Traktat Giyanti” 1755, berdasarkan perjanjian yang diteken di desa Giyanti –kini masuk kecamatan Matesih, sekitar 40 km di timur kota Solo. Mataram dibagi dua, wilayah timur bernama Mataram Surakarta Hadiningrat, dengan Sri Susuhunan Paku Buwono III sebagai raja. Adapun wilayah barat bernama Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat, di bawah kekuasaan Pangeran Mangkubumi, yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono Senopati Ngalogo Abdurrahman Sayidin Panotogomo. Sedangkan Mangkunegoro tetap menolak berunding dengan Belanda, dan melanjutkan perjuangan. Kini, ia tidak hanya berperang melawan Belanda, melainkan juga menghadapi pasukan Sultan Hamengkubuwono I (Mangkubumi) dan kekuatan militer Paku Buwono III. Mangkunegoro berperang sepanjang 16 tahun melawan kekuasaan Mataram dan Belanda. Selama tahun 1741-1742, ia memimpin laskar Cina melawan Belanda. Kemudian bergabung dengan Pangeran Mangkubumi selama sembilan tahun melawan Mataram dan Belanda, 1743-1752. Selanjutnya, ia berjuang sendirian memimpin pasukan melawan dua kerajaan dan pasukan Kompeni, 1752-1757. Selama kurun tersebut, pasukan Mangkunegoro melakukan pertempuran sebanyak 250 kali. Berkali-kali Mangkunegoro lolos dari sergapan pasukan gabungan Mataram, Belanda. Ia dikenal sebagai panglima perang yang berhasil membina pasukan yang militan. Dari sinilah ia dijuluki “Pangeran Sambernyawa”, karena dianggap oleh musuh-musuhnya sebagai penyebar maut. Kehebatan Mangkunegoro dalam strategi perang bukan hanya dipuji pengikutnya melainkan juga disegani lawannya. Tak kurang dari Gubernur Direktur Jawa, Baron van Hohendorff, yang berkuasa ketika itu, memuji kehebatan Mangkunegoro. “Pangeran yang satu ini sudah sejak mudanya terbiasa dengan perang dan menghadapi kesulitan. Sehingga tidak mau bergabung dengan Belanda dan keterampilan perangnya diperoleh selama pengembaraan di daerah pedalaman,” tutur Hohendorff. Terjadi tiga pertempuran dahsyat pada periode 1743-1752. Yang pertama, Mangkunegoro bertempur melawan pasukan Mangkubumi (Sultan Hamengkubuwono I) di desa Kasatriyan, barat daya kota Ponorogo, Jawa Timur. Perang itu terjadi pada hari Jum’at Kliwon, tanggal 16 Syawal “tahun Je” 1678 (Jawa) atau 1752 Masehi. Desa Kasatriyan merupakan benteng pertahanan Mangkunegoro setelah berhasil menguasai daerah Madiun, Magetan, dan Ponorogo.

Mempersembahkan Kepala Belanda

Sultan mengirim pasukan dalam jumlah besar untuk menghancurkan pertahanan Mangkunegoro. Besarnya pasukan Sultan itu dilukiskan Mangkunegoro “bagaikan semut yang berjalan beriringan tiada putus”. Kendati jumlah pasukan Mangkunegoro itu kecil, ia dapat memukul mundur musuhnya. Ia mengklaim cuma kehilangan 3 prajurit tewas dan 29 menderita luka. Di pihak lawan sekitar 600 prajurit tewas. Perang besar yang kedua pecah di hutan Sitakepyak, sebelah selatan Rembang, yang berbatasan dengan Blora, Jawa Tengah. Pasukan Mangkunegoro bertempur melawan dua detasemen Kompeni Belanda, yang dipimpin Kapten Van Der Poll dan Kapten Beiman. Mangkunegoro mencatat, perang ini terjadi pada hari Senin Legi, bulan Syuro “tahun Wau” 1681, atau 1756 Masehi. Dalam pertempuran ini pasukan Belanda didukung oleh kekuatan militer Mataram Yogyakarta yang dipimpin Patih Danurejo, Raden Ronggo dan tentara Mataram Surakarta. Gabungan pasukan inilah yang terus menerus mengejar Mangkunegoro sampai ke hutan Sitakepyak. Di sini pasukan Mangkunegoro dikepung sekitar 200 soldadu Kompeni, 400 pasukan Kesultanan Yogyakarta dan 400 pasukan Surakarta. Lagi-lagi pasukan gabungan ini gagal menangkap Mangkunegoro. Berdasarkan catatan Mangkunegoro, 85 orang pasukan musuh dibunuh dan ia cuma kehilangan 15 prajuritnya. Ia juga menceritakan, dalam pertempuran ini ia berhasil “menyambar nyawa” Kapten Van Der Poll, dengan memenggal kepalanya. Dengan tangan kirinya, Mangkunegoro menyerahkan kepala itu kepada Mbok Ajeng Wiyah, salah seorang selirnya, sebagai tanda cinta. Catatan Mangkunegoro itu dibenarkan oleh Belanda lewat laporan De Jonge “In een bosch, idcht bij Blora, versloeg hij een detachement compagnies troepen, waar van de aanvoeder sneuvelde” (Di sebuah hutan dekat Blora, ia membinasakan satu detasemen pasukan Kompeni, komandannya pun mati di peperangan). Mangkunegoro tidak cuma pandai bertahan dan bersembunyi dari kejaran musuhnya. Berkali-kali pasukannya menyerang kubu pertahanan lawan. Pangeran yang bertubuh kecil dan bermata tajam ini memimpin pasukannya menyerang benteng Kompeni dan istana Keraton Mataram, keduanya di Yogyakarta. Ia mencatat peristiwa bersejarah ini terjadi pada hari Kamis, tanggal 3 Sapar “tahun Jumakir” 1682 (Jawa) atau 1757 Masehi.

Pertemuan di Desa Tunggon

Peristiwa itu dipicu oleh kekalutan tentara Kompeni yang mengejar Mangkunegoro sambil membakar dan menjarah harta benda penduduk desa. Mangkunegoro murka. Ia balik menyerang pasukan Kompeni dan Mataram. Setelah memancung kepala Patih Mataram, Joyosudirgo, secara diam-diam Mangkunegoro membawa pasukan mendekat ke Keraton Yogyakarta. Benteng Kompeni Belanda, yang letaknya cuma beberapa puluh meter dari Keraton Yogyakarta, diserang. Lima tentara Kompeni tewas, ratusan lainnya melarikan diri ke Keraton Yogyakarta. Selanjutnya pasukan Mangkunegoro menyerang Keraton Yogyakarta. Pertempuran ini berlangsung sehari penuh Mangkunegoro baru menarik mundur pasukannya menjelang malam. Serbuan Mangkunegoro ke Keraton Yogyakarta mengundang amarah Sultan Hamengku Buwono I. Ia menawarkan hadiah 500 real, serta kedudukan sebagai bupati kepada siapa saja yang dapat menangkap Mangkunegoro. Sultan gagal menangkap Mangkunegoro yang masih keponakan dan juga menantunya itu. Kompeni, yang tidak berhasil membujuk Mangkunegoro ke meja perundingan, menjanjikan hadiah 1.000 real bagi semua yang dapat membunuh Mangkunegoro. Tak seorang pun yang berhasil menjamah Mangkunegoro. Melihat kenyataan tersebut, Nicholas Hartingh, penguasa Kompeni di Semarang, mendesak Sunan Paku Buwono III meminta Mangkunegoro ke meja perdamaian. Sunan mengirim utusan menemui Mangkunegoro, yang juga saudara sepupunya. Mangkunegoro menyatakan bersedia berunding dengan Sunan, dengan syarat tanpa melibatkan Kompeni. Singkatnya, Mangkunegoro menemui Sunan di Keraton Surakarta dengan dikawal 120 prajuritnya. Sunan memberikan dana bantuan logistik sebesar 500 real untuk prajurit Mangkunegoro. Pertemuan kedua berlangsung di Desa Jemblung, Wonogiri. Sunan memohon kepadanya agar mau membimbingnya. Sunan menjemput Mangkunegoro di Desa Tunggon, sebelah timur Bengawan Solo. “Jika Kangmas mengasihi saya, janganlah Kangmas pergi lagi,” kata Paku Buwono III, sambil merangkul Mangkunegoro. “bimbinglah saya dan menetaplah di nagari Solo. Mari kita pulang sama-sama ke nagari Solo.” Ratusan prajurit menitikkan air mata menyaksikan pertemuan dua pembesar Kerajaan Mataram itu.

Pasukan Wanita Mangkunegoro

Mangkunegoro mendirikan istana di pinggir Kali Pepe pada tanggal 4 Jimakir 1683 (Jawa), atau 1756 Masehi. Tempat itulah yang hingga sekarang dikenal sebagai istana Mangkunagaran. Untuk menetapkan wilayah kekuasaan Mangkunegoro, tercapailah kemudian perjanjian di Salatiga, 17 Maret 1757. Dalam perjanjian yang melibatkan Sunan Paku Buwono III, Sultan Hamengku Buwono I, dan Kompeni Belanda ini, disepakati bahwa Mangkunegoro diangkat sebagai adipati miji alias mandiri. Ia bergelar Kanjeng Pangeran Adipati Arya Hamangkunegoro. Kedudukannya sejajar dengan Sunan dan Sultan. Ia memerintah wilayah Kadaung, Matesih, Honggobayan, Sembuyan, Gunung Kidul, Pajang sebelah utara dan Kedu. Ia bertahta selama 40 tahun, dan wafat pada 28 Desember 1795. Pada 1983, pemerintah mengangkat Mangkunegoro I sebagai pahlawan nasional, mendapat penghargaan Bintang Mahaputra. Selama bertahta, ia membangun kekuasaan militer terbesar di antara tiga kerajaan Jawa. jumlah pasukannya mencapai 4.279 tentara reguler. Sebanyak 144 di antara prajuritnya adalah wanita, terdiri dari satu peleton prajurit bersenjata karabijn (senapan), satu peleton bersenjata penuh, dan satu peleton kavaleri (pasukan berkuda). Mangkunegoro tercatat sebagai raja Jawa yang pertama melibatkan wanita di dalam angkatan perang. Prajurit wanita itu bahkan sudah diikutkan dalam pertempuran, ketika ia memberontak melawan Sunan, Sultan dan Kompeni. Selama 16 tahun berperang, Mangkunegoro mengajari wanita desa mengangkat senjata dan menunggang kuda di medan perang. Ia menugaskan sekretaris wanita mencatat kejadian di peperangan

Sumber Disini

20 Tahun lagi, kutub tanpa es


Peringatan terbaru mengenai dampak pemanasan global kembali disuarakan kalangan ilmuwan. Kali ini Peter Wadhams, guru besar bidang fisika samudera di Universitas Cambridge, Inggris, memperingatkan bahwa dalam waktu 20 tahun mendatang, orang takkan bisa lagi menjumpai adanya es di Kutub Utara saat musim panas.

Menurut Wadhams pada Kamis (15/10), proses mencairnya es di Kutub Utara ini akan berlangsung selama 10 tahun, meski di saat musim dingin es masih akan terus ada hingga ratusan tahun mendatang. Dengan adanya kondisi ini, wilayah Kutub Utara akan terlihat biru dan bukannya putih jika dipotret dari antariksa. Kapal-kapal juga bakal memiliki rute pelayaran antarbenua yang baru di utara Rusia, di perairan yang selama ini selalu tertutup es.
Dalam penelitiannya, Wadhams membandingkan berbagai ukuran ketebalan es di kawasan Kutub Utara hasil penyelidikan AL Inggris pada 2007 dengan pengukuran terbaru yang dilakukan penjelajah alam Inggris Pen Hadow tahun ini. Hadow dan timnya mengebor 1.500 lubang untuk mengumpulkan bukti selama perjalanannya sejauh 450 km menyeberangi kawasan Arktik. Mereka menemukan bahwa rata-rata ketebalan es di lautan beku Kutub Utara hanya 1,8 meter. Ketebalan ini dinilai tak cukup kuat untuk bertahan selama masa pencairan es di musim panas


Kapolri mau bersaksi Antasari serang polisi & jaksa


Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Antasari Azhar, mempertanyakan aktor intelektual di balik pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran (PRB), Nasrudin Zulkarnaen.

”Saya mempertanyakan aktor intelektual,” tegas Antasari dalam eksepsinya di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Kamis (15/10). Bersama tiga tersangka lain, Kombes Pol Wiliardi Wizar, Sigid Haryo Wibisono dan Jerry Hermawan Lo, dia didakwa melakukan pembunuhan berencana terhadap Nasrudin.

Di depan majelis hakim yang diketuai Herry Swantoro, kemarin, Antasari mempertanyakan adanya konspirasi untuk menghancurkan pimpinan KPK. ”Saya tidak gentar dengan pembunuhan karakter.” Namun, ia mempertanyakan mengapa kasus ini muncul saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan masyarakat menyatakan korupsi sebagai kejahatan luar biasa. Selain itu, ia pun mempertanyakan proses penetapan dirinya sebagai tersangka kasus pembunuhan tanpa disertai bukti-bukti awal.
”Saya diperiksa 4 Mei 2009, pada pukul 10.00 WIB diperiksa sebagai saksi dan pukul 13.30 WIB ditetapkan sebagai tersangka, tanpa ada bukti awal.”
Kemudian pada pukul 16.00 WIB, dia harus menandatangani berita acara pemeriksaan (BAP) dengan alasan kelengkapan administrasi. ”Pada pukul 16.30 WIB sebagai tahanan. Dalam satu hari saya dikenai status saksi, tersangka, tahanan, dan sidang harus memakan waktu enam bulan,” papar Antasari.
Skandal seks
Antasari meyakini dirinya korban dan ada kekuatan lain yang lebih besar di balik kasus ini. Kasus ini pun memunculkan dugaan motif cinta segitiga antara Nasrudin, Rani Juliani dan Antasari.
Di bagian lain, Antasari menyatakan pejabat Kejaksaan Agung (Kejagung) bisa saja diseret ke pengadilan dalam kasus suap Jaksa Urip Tri Gunawan, kalau hanya mengandalkan satu alat bukti. Hal itu terkait dengan dakwaan terhadap dirinya yang hanya menggunakan satu alat bukti, yakni keterangan saksi Rani Juliani.
Antasari menuding rekayasa yang dilakukan jaksa penuntut umum (JPU) terhadap dirinya begitu hebat, dan sesuai dengan skenario besar untuk menggiring dirinya sebagai terdakwa sejak awal dimulainya penyidikan. ”Rekayasa ini dibuat bagaimana caranya untuk menghukum orang yang tidak berbuat.”
Seusai persidangan, JPU Cirus Sinaga membantah dakwaan terhadap Antasari sekadar dongeng atau rekayasa. ”Dongeng itu tidak ada dalam surat dakwaan.” Karena itu, JPU akan memberikan tanggapan secara tertulis atas eksepsi Antasari.
Pada kesempatan sama, Juniver Girsang, pengacara Antasari, mengatakan bukti seputar skandal seks Antasari dengan Rani itu tidak kuat, karena hanya datang dari Rani seorang. ”Cerita itu sengaja dihadirkan untuk menjatuhkan nama Antasari,” kata Juniver.
Ia menduga, JPU tidak punya bukti kuat untuk menjerat Antasari dengan kasus pembunuhan, sehingga jaksa menghadirkan cerita porno untuk memberi sanksi sosial kepada Antasari. Menurut dia, banyak kalangan membenci kiprah KPK, sehingga mengatur berbagai skenario untuk menjatuhkan Antasari.
“Salah satu caranya adalah dengan cerita esek-esek tadi. Selama ini, Antasari bersama-sama dengan para pimpinan KPK telah menegakkan pemberantasan korupsi tanpa pandang bulu, sehingga banyak yang membencinya,” katanya.
Di bagian lain, Antasari menyatakan tidak kenal dengan terdakwa lain, Komisaris Besar Polisi Wiliardi Wizar, mantan Kapolres Jakarta Selatan terkait dengan dakwaan JPU yang menyatakan dia dapat mempromosikan karier Wiliardi Wizar. ”Untuk mempromosikan, saya tidak berwenang dan saya tidak berjanji,” bantahnya.
Terpisah,Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri menyatakan kesiapannya menjadi saksi pada sidang pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen di PN Jakarta Selatan. ”Saya rasa, saya siap menjadi saksi jika dibutuhkan,” tegas Kapolri di Jakarta, Kamis.

Pertemuan Antasari-Rani di kamar 803
Hotel Gran Mahakam (versi pengacara)

* Rani minta kesediaan Antasari untuk bertemu dan menawarkan keanggotaan di Modern Land Golf, Tangerang.
* Karena saat itu Antasari juga punya janji bertemu seseorang di Gran Mahakam, dia mengusulkan Rani sekalian menemuinya di hotel yang sama.
* Sekitar 6 menit setelah Rani menelepon, masuk telepon dari Nasrudin yang juga mendesak bertemu karena ingin menyampaikan dokumen perkara korupsi. Antasari menyanggupi dan mengundangnya juga ke Gran Mahakam.
* Antasari mempersilakan Rani masuk kamar. Mahasiswi itu kemudian menyerahkan formulir keanggotaan Modern Land Golf dan langsung diisi Antasari.
* Berselang 10 menit, tiba-tiba Nasrudin menelepon dan mengaku sudah di lobi hotel. Antasari minta pengisian formulir Modern Land dilanjutkan lain hari dan meminta Rani pulang.
* Saat membukakan pintu, Nasrudin sudah di depan pintu kamar 803 dan menyeruak masuk. Nasrudin bertanya, “Mengapa Bapak bertemu dengan istri saya dan apa yang Bapak lakukan? Saat ini saya bisa memanggil wartawan untuk menghancurkan karier Bapak!”
* Antasari meminta Nasrudin tenang. Dia juga menjelaskan tidak berbuat apa-apa dengan Rani dan baru tahu Rani ternyata istri Nasrudin. Antasari juga menyerahkan uang Rp 2 juta setelah Nasrudin mengeluh ibunya sakit di Singapura.
* Antasari menagih informasi penting dari Nasrudin, ternyata Nasrudin tidak membawa dokumen apa-apa. Setelah pertemuan itu, Nasrudin berpamitan secara baik-baik kepada Antasari.


Bus terbakar di garasi


Ngadirojo
Sebuah bus terbakar di garasi PO Gajah Mungkur, Ngadirojo, Selasa (13/10) malam. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu, namun kerugian ditaksir senilai Rp 3 juta.

Informasi yang dihimpun Espos, Rabu (14/10), menyebutkan peristiwa itu berlangsung Selasa sekitar pukul 20.30 WIB. Diperoleh keterangan, bus yang terbakar bernopol B 7542 IS, yang dikemudikan Jupri. Kapolres Wonogiri AKBP Agus Djaka Santoso melalui Kapolsek Ngadirojo AKP Darmanto mengonfirmasi kebakaran itu. “Api bisa dipadamkan oleh kru, satpam dan masyarakat setempat. Namun ada salah seorang warga yang telanjur menelepon unit pemadam kebakaran. Saat mobil pemadam datang api sudah padam,” kata Kapolsek.
Menurutnya, seusai padam dilihat empat jok berikut bodi bagian belakang bus terbakar. “Penyebab awal, kemungkinan korsleting kabel dan kebetulan di atas jok terdapat kasur sehingga memudahkan menjalarnya api,” jelasnya.


Gempa Sumbar, Pengangguran Naik 7.000 Orang


JAKARTA - Angka pengangguran pascagempa di Sumatera Barat meningkat sebesar 7 ribu orang atau total mencapai 72 ribu orang.

"Pengangguran mencapai 65 ribu, tapi bertambah 7 ribu dengan adanya bencana di Padang," ujar Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno, seusai rapat koordinasi terakhir menteri-menteri Perekonomian, di Kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (14/10/2009)

Angka pengangguran tersebut banyak berasal dari sektor elektronik, garmen, dan manufaktur. Untuk mengurangi angka pengangguran tersebut. Pemerintah akan menambah lapangan kerja baru agar dapat menurunkan tingkat pengangguran menjadi delapan persen untuk tahun ini. "Pemerintah akan membuka lapangan kerja dengan padat karya produktif," tukasnya.


Pohon Suweg Mirip Bunga Bangkai Bikin Heboh


BANTUL - Warga Dusun Kweden, Desa Trirenggo, Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul, DIY, dihebohkan dengan munculnya sebuah bunga yang mirip bunga bangkai di kawasan peternakan sapi di dusun setempat. Yang membuat heran warga, bunga itu tumbuh dari bibit suweg (Amorphophallus Campanulatus) yang ditanam 20 hari lalu.

Kemunculan bunga yang memiliki ketinggian 40 cm dan diameter bunga 30 cm itu sebenarnya sudah diketahui sejak Senin (11/10/2009) lalu.


"Awalnya hanya kuncup saja, dan sejak dua hari lalu barulah bunga itu mekar dengan mahkota bunga berwarna hitam serta daun bunga hijau," ujar Ny Edy Sutrisno (61), sang penanam saat ditemui, Rabu (14/10/2009).

Tapi secara khusus, keheranan Edy dan warga yang lain disebabkan karena bunga yang muncul berasal dari satu dari dua bibit suweg yang 20 hari lalu ditanam bersamaan. Sedangkan biji suweg yang satunya, sudah tumbuh pohon berwarna hijau dengan bercak putih berketinggian lebih dari satu meter.

Edy menceritakan, awal dirinya menanam bibit suweg itu sebagai kegiatan iseng saja karena adanya sisa dari buah suweg yang didapatkan. Menurutnya, buah suweg itu dia peroleh dari kediaman adik kandungnya di Wonosari, Gunungkidul.

"Setelah bosen memakannya, akhirnya dua buah itu saya putuskan di tanah yang dulunya menjadi tempat pembuangan kotoran sapi. Saya tidak pernah merawatnya maupun memperhatikannya hingga muncul bunga itu," katanya.

Edy juga menyatakan dirinya sama sekali tidak mendapatkan firasat apa-apa menjelang hingga kemunculan bunga itu.

Sementara itu, Muhdi salah satu peternak menyatakan, keanehan warga untuk berbondong-bondong melihat bunga itu adalah bentuknya yang mirip dengan bunga bangkai, namun tidak mengeluarkan bau.

"Terus terang warga tidak pernah melihat bunga seperti itu maupun pohon suweg. Tapi yang membikin heran kami, kok yang berbunga hanya satu, sedangkan yang satunya lagi tumbuh normal," katanya.

Polisi Pastikan Syaifudin & Syahrir Tewas


JAKARTA - Mabes Polri memastikan dua jenazah teroris yang tewas dalam penggerebekan di Ciputat pada Jumat lalu adalah Syaifudin Zuhri dan M Syahrir. Hal itu berdasarkan pada uji medis yang dilakukan melalui sistem Disaster Victim Identification (DVI).

"Jadi secara forensik sudah bisa dibuktikan bahwa yang tewas adalah Syaifudin Zuhri dan M Syahrir," ujar Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Soekarna dalam jumpa pers di Mabes Polri, Senin (12/10/2009).


Syaifudin dan Syahrir merupakan DPO kasus pengeboman Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton pada 17 Juli 2009. Sejak peristiwa peledakan yang menewaskan sembilan orang dan melukai puluhan orang itu, Syaifudin dan Syahrir menghilang.

Syaifudin berperan sebagai perekrut Dani Dwi Permana (19), pengebom Hotel JW Marriott dan Nana Ihwa Maulana (28), pengebom hotel Ritz Carlton. Adapun Syahrir berperan membantu operasional pengeboman.

Polisi sempat mengendus keberadaan kakak beradik itu di Temanggung, Jawa Tengah. Namun kemudian kehilangan jejak. Baru pada Jumat, 9 Oktober lalu, tim Densus 88 Antiteror berhasil membekuk Syaifudin dan Syahrir di sebuah rumah kos di Jalan Semanggi I RT 02 RW 03, Cempaka Putih, Ciputat.

Mabes Polri secara resmi baru merilis identitas Syaifudin dan Syahrir pada Senin, 12 Oktober malam. Identitas Syaifudin dan Syahrir diumumkan setelah dilakukan tes uji DNA dan sidik jari.

Poyek Puskesmas salahi bestek, 2 rekanan ditegur

Pemerintah Kabupaten Wonogiri menegur dua rekanan yaitu CV Wono Luhur dan CV Karya Abadi terkait pembangunan Puskemas yang dinilai tidak sesuai rencana kerja dan syarat-syarat (RKS).
Berdasarkan hasil laporan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), uji petik yang dilakukan tim BPK menemukan dua gedung Puskesmas di Tirtomoyo dan Ngadirojo yang menelan dana Rp 72 juta, menunjukkan pembangunan gedung tidak sesuai RKS di antaranya pemilihan material bangunan.

Menurut anggota Dewan, Ngadiyono, adanya laporan pemeriksaan dari BPK tersebut, dirinya mempertanyakan Pemkab sampai di mana proses klarifikasi dan pertanggungjawaban terkait pembangunan yang dinilai menyalahi RKS tersebut? Selain itu, dia menambahkan, ke depan, Pemkab diminta selektif dalam hal menunjuk rekanan untuk menyelesaikan proyek. “Seleksi yang dilakukan oleh Pemkab terkait penunjukan pihak ketiga harus lebih selektif, karena jika ada kesalahan prosedur rekanan harus bertanggung jawab,” jelas dia, Jumat (9/10).
Pada tahun 2008, ada sebelas Puskesmas di beberapa kecamatan yang mendapatkan dana guna melaksanakan pembangunan fisik serta rehabilitasi dengan anggaran Rp 5 miliar. Namun pada pelaksanaannya, BPK menemukan pembangunan yang menyalahi ketentuan. Akibat kondisi tersebut kualitas bangunan belum sesuai yang diharapkan. Sekretaris Daerah Wonogiri, Suprapto, mengakui adanya kesalahan. Dia mencontohkan cat tembok tidak rata, daun jendela tidak sesuai spesifikasi, plesteran tembok retak-retak, selot rusak maupun kayu jati yang diganti menggunakan kayu lannya.
Pihaknya telah memberikan teguran terhadap rekanan. “Setelah diadakan pengecekan langsung, kami minta rekanan bertanggung jawab,” jelas dia.

Dibongkar

Dia mengatakan kedua rekanan tersebut telah membongkar bangunan yang dinilai tidak sesuai dengan ketentuan dan hasil pembongkaran tersebut telah dilaporkan kembali ke BPK. Menurutnya, bahan bangunan yang digunakan misalnya kayu yang digunakan adalah jenis jati tetapi rekanan menggunakan jenis kayu lain di luar kesepakatan. Suprapto menambahkan pengawas lapangan dalam hal ini mendapatkan teguran terkait pelaksanaan bangunan itu, untuk dapat melaksanakan tugas lebih maksimal.
“Rekanan pada prinsipnya bertanggung jawab, dan hasil pembongkaran tersebut telah disampaikan kembali sebagai laporan atas penyelesaian proyek,” ungkapnya.

Potensi Desa Pule, Kecamatan Selogiri Lukis kaca, mengubah kepolosan menjadi keindahan

Selogiri
Desa Pule, Kecamatan Selogiri, Wonogiri merupakan daerah perlintasan antarkabupaten yang cukup strategis. Di pusat desa yang terletak di pinggir jalan alternatif terdapat lapangan, kantor desa dan sekolah mulai TK hingga SMP.


Letaknya yang berbatasan dengan Kecamatan Bulu, Sukoharjo dan menjadi jalur alternatif lintas provinsi menjadikan Desa Pule ramai sebagai lalu lintas perekonomian.
Kades Pule, Sugimo, pernah meminta dibangun sekolah setingkat SLTA yang mampu menjaring generasi muda untuk lebih berkreasi. Salah satu bukti kreativitas warga yang belum dikenal cukup luas adalah lukis kaca. Pengrajin kaca asal Ngricik RT 02/VIII, Pule, Selogiri justru melanglang buana Pulau Madura untuk mengembangkan keahliannya sebelum kembali ke desanya tahun 1988.
Kecakapannya untuk mengubah kaca polos menjadi kaca yang indah dipandang itu akhirnya diakui oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi UKM Wonogiri. Hasil karya itu kini telah masuk dalam brosur unggulan Wonogiri yang disebar oleh Dinas. Saat ditemui Espos di rumahnya, Senin (5/10), pengrajin kaca, Mulyadi, menceritakan harga lukisan kaca bervariasi, tergantung bahan baku.
Selain lukis kaca, Mulyadi juga bisa membuat kaca patri. Dia menjelaskan kaca patri meliputi empat tingkatan bahan baku, yakni bahan lokal, full import (impor semua), 50% lokal dan impor serta 30% impor dan 70% lokal. Harga kerajinan itu Rp 1 juta/meter dan untuk full import Rp 2,5 juta/meter.
”Namun untuk bahan baku yang berbandingan 30%:70% per meter Rp 1,2 juta dan 50%:50% per meter Rp 1,5 juta.”
Sementara untuk lukis kaca, harga tergantung dari bahan dan hasil. Jika ingin hasilnya berwarna, harganya Rp 500.000/meter, sedangkan untuk polos antara Rp 400.000 hingga Rp 450.000/meter.
“Sejak 1988, saya membuka usaha lukis kaca dan patri. Setelah keluar dari bidang seni di Yogyakarta, saya berkeinginan membuka usaha sendiri. Pasar tidak terlalu sulit. Pasar lokal seperti Pracimantoro, Baturetno dan Wonogiri cukup banyak selain juga ke Ponorogo, Jatim. Soal bahan baku kaca, saya harus cari ke Semarang atau Yogyakarta. Yang paling sulit mencari bahan baku kaca AS.”
Untuk merampungkan garapannya, dia bekerja dengan saudaranya bernama Sutino. Satu garapan rata-rata diselesaikan dalam waktu satu bulan, tergantung tingkat kerumitan gambar.

Kolam ikan pemasok gizi siswa

Selogiri
Melihat sepintas dan masuk ke lingkungan SDN 2 Tekaran, Gemantar, Selogiri, orang akan berdecak kagum. Lingkungan sekolah cukup luas dan bersih. Di taman ada keran, di sampingnya terdapat serbet.

Lebih ke dalam di depan ruang guru dan kepala sekolah (Kasek) terdapat air mancur yang di bawahnya terdapat kolam yang berisi puluhan lele dan ikan hias lainnya. Kolam itu pemasok gizi siswa. Di salah satu ruangan juga terdapat musala, di sampingnya terdapat deretan keran untuk berwudu. Namun hampir setiap hari lokasi tersebut digunakan para siswa untuk menyikat gigi. Setiap kelas mempunyai jadwal khusus untuk sikat gigi berjamaah.
Keteduhan pun terasa karena di depan ruang guru dan kepala sekolah juga terdapat aneka tanaman bunga hingga gelombang cinta. Pekarangan sisi utara dijadikan taman apotek hidup dan kolam ikan. Di dinding kolam itulah berdapat tulisan ”Anak pintar selalu makan ikan”. Di sampingnya terdapat sepetak lahan yang ditanami cabai.
Atas kelebihan-kelebihan itu, SDN 2 Tekaran yang dipimpin Eko Prabandari itu, Selasa (6/10), dikunjungi tim penilai sekolah sehat dari Provinsi Jateng. Menurut ketua tim, Jukri, SDN 2 Tekaran merupakan salah satu SD yang menjadi nomine sekolah sehat. “Jika dilihat sepintas, kondisinya tidak jauh berbeda dengan SDN di Purbalingga yang maju ke tingkat nasional tahun lalu. Nilai tambah yang ada di SDN 2 Tekaran tadi adalah penyerahan bibit ikan dan bibit pohon kepada masyarakat sekitar sekolah.”
Kepala Disdik Wonogiri H Suparno melalui Kabid TK/SD Sarjito dan Kasi Kurikulum Sri Mul-yati menyatakan penilaian meliputi tiga unsur. Yakni keberadaan tim pembina UKS kabupaten, tim pembina UKS kecamatan dan lokasi sekolah. “Di lokasi sekolah pun, tidak hanya sekolah tapi juga masyarakat sekitar lokasi karena Trias UKS harus dilaksanakan. seperti pelayanan kesehatan, pendidikan kesehatan dan lingkungan sekolah.”


Lagi, Radya Pustaka terima naskah kuno


Koleksi naskah kuno Museum Radya Pustaka bertambah satu lagi. Seorang warga Panularan, Laweyan, Solo, Suwarna, 66, menyerahkan naskah kuno 233 halaman yang dibuat tahun 1869 kepada pengelola museum, Sabtu (3/10).
Naskah tersebut dalam kondisi rapuh, kendati seluruh isi naskah masih bisa terbaca. Di beberapa lembar, naskah terlihat sobek dan direkatkan dengan selotip.

Naskah carik atau naskah yang ditulis dengan tangan tersebut memuat 10 judul. Di antara naskah yang ditulis dalam bahasa Jawa itu berjudul wijining bayi, serat widya pranawa dan suluk darmabrata. Pengelola museum mengaku belum dapat menjelaskan isi naskah secara tepat, lantaran membutuhkan waktu untuk pengalihan bahasa.
Suwarna kepada wartawan, di Radya Pustaka, Sabtu, mengatakan naskah kuno yang diserahkan itu merupakan warisan dari leluhurnya, Waneng Wiradi. Sebelum diserahkan, Suwarna menjelaskan naskah hanya disimpan dalam lemari kayu bersama buku-buku lain. ”Sebenarnya sejak awal saya ingin menyerahkan buku ini, karena saya sendiri tidak tahu bagaimana memeliharanya. Sekarang ini, kebetulan sempat, naskah saya serahkan. Kebetulan sejak 1963 saya sudah merantau keluar dari Solo. Saya harap naskah itu bisa dimanfaatkan museum sebagaimana mestinya,” jelas purnawirawan letnan kolonel laut tersebut.
Sementara itu, pengelola museum mengakui naskah yang dibuat pada tahun 1800-an, seperti naskah sumbangan Suwarna, jumlahnya terbatas. Menurut Sekretaris Komite Museum Radya Pustaka, Djoko Darjata, museum hanya memiliki enam puluhan naskah kuno yang dibuat pada tahun-tahun tersebut. Lantaran itu, dia menilai, sumbangan dari Suwarna sangat penting bagi museum.
Sedangkan, mengenai naskah kuno itu sendiri, pengelola telah mempersiapkan langkah-langkah yang bakal ditempuh. Djoko, didampingi wakil komite museum, Sanjata, mengatakan, langkah pertama, fisik naskah kuno akan dibersihkan atau dipelihara. Selanjutnya, pihak museum dengan bantuan Yayasan Sastra akan melakukan alih sastra dan alih bahasa. Untuk pemeliharaan lebih jauh, pengelola akan menghubungi Dinas Pariwisata Provinsi Jateng guna meminta dilakukan laminasi naskah kuno.


Menangkal keruwetan dan bencana dengan ruwatan


Janji Bupati Wonogiri sepulang dari Lampung awal bulan ini untuk mengadakan ruwatan atas berbagai bencana alam di negeri ini, mulai gempa hingga tanah longsor ditepati.

Ruwatan Agung NKRI pun digelar di Pendapa Rumah Dinas Bupati, Rabu (7/10). Ribuan warga memadati halaman Pemkab Wonogiri, namun didominasi oleh pelajar, sehingga mereka tidak mengikuti pelajaran.
Selain pelajar, seluruh pegawai dan kepala desa se-Wonogiri pun dikerahkan. Dengan mengenakan baju warna putih dan bawahan warna bebas, ribuan peserta ruwatan duduk lesehan di pendapa ataupun halaman Kantor Pemkab Wonogiri.


Jajaran Muspida hadir yaitu Dandim 0728/Wonogiri Letkol (Inf) Murdjoko, Wakapolres Wonogiri Kompol Sudarto, wakil dari Kejari Sutarto dan penyelenggara Bupati Wonogiri KPAA Condrokusuma Ki Brodronoyo Donowarih Sura Agul-agul H Begug Poernomosidi.
Pejabat Pemkab Wonogiri saat itu mengenakan pakaian Jawa komplet warna putih, mulai dari blangkon, beskap maupun jarit. Dalang ruwat adalah Ki Sutino Hardoko Carito, yang sebelumnya menerima tokoh wayang Bathara Kala yang diserahkan oleh Bupati. Upacara ruwat dilangsungkan dalam bahasa Jawa.
“Ruwet, rubida, pepeteng wonten ing Bumi Indonesia, sagedo sumingkir saka Nagari Indonesia, Bangsa Indonesia lan satuhu menggah beja mulya sak lami-laminipun (keruwetan, goda dan apa saja yang menyelimuti bumi Indonesia sebisa mungkin menyingkir dan menemui kebahagiaan selama-lamanya),” ujar Bupati sebelum menyerahkan wayang Bathara Kala kepada dalang.
Sebelumnya, Kakandepag Wonogiri, H Suparno, memimpin doa dalam bahasa Jawa yang intinya agar bencana alam selama ini membukakan hati pejabat dan masyarakat untuk selalu ingat kepada Allah SWT.
Wayang Bathara Kala sebelumnya dikirab dari ruang kerja Bupati menuju pendapa, diiringi oleh penari hasta brata dan dua pembawa dupa. Aroma wewangian tercium di sekitar lokasi ruwatan. Di belakang pakeliran juga tertata sesaji berisi jajan pasar, ingkung, lima kendi berisi air yang ditutup dengan daun pisang, telur warna putih dan juga kelapa atau cengkir

Wonogiri Berpotensi Gempa Bumi


WONOGIRI

Semua kecamatan di Kabupaten Wonogiri memiliki potensi terlanda gempa bumi sehingga pemerintah kabupaten menyiapkan langkah antisipasi.

“Dua kecamatan termasuk dalam kategori skor satu dengan tingkat dampak terbesar jika terjadi gempa bumi,” kata Kepala Badan Kesbangpolinmas Kabupaten Wonogiri Gatot Gunawan,kemarin. Dua wilayah kecamatan yang masuk dalam kategori skor 1, kata dia, adalah Kecamatan Baturetno dan Kecamatan Sidoharjo.“Dalam dua kecamatan tersebut,ada enam desa yang masuk peta gempa kategori skor 1,yaitu Desa Glesung Rejo, GambirAnom,Baturetno,Se-wukan, Kayulopo,dan Sidoharjo,”katanya.

Dia mengatakan topografi daerah dengan tanah labil dan berbu-kit menjadi faktor penyebab daerahdaerah tersebut termasuk ke dalam kategori skor satu.Wilayah yang masuk kategori berpotensi gempa dengan skor dua,lanjutnya,ada sembilan kecamatan,yaitu Kecamatan Girimarto, Girimoyo,Jatipurnomo,Jatiroto, Jatisrono,Pracimantoro,Wuntoronadi, Giritontro,dan Selogiri. “Sebanyak 14 kecamatan yang tidak termasuk ke dalam kategori satu dan dua, termasuk dalam kategori skor tiga,”kata dia.

Dia mengatakan pemetaan tersebut berdasarkan data dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Untuk bencana gempa,kata dia,selama ini Wonogiri pernah terimbas dampak gempa Jateng-DIY beberapa tahun lalu. “Namun, waktu itu hanya terjadi kerusakan fisik,korban jiwa tidak ada,”katanya.Dia mengatakan Pemkab Wonogiri sudah menyiapkan langkah antisipasi terhadap dampak gempa bumi yang sewaktuwaktu terjadi.“Beberapa langkah antisipasi tersebut antara lain pendataan daerah yang berpotensi terkena dampak gempa,menggelar pelatihan penyelamatan, menjalin koordinasi dengan dinas terkait, persiapan pendirian posko, dan menyebarkan peta daerah rawan ke masyarakat Wonogiri,”kata Gatot.

Sementara itu Kepala Stasiun Geofisika Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta Budi Waluyo mengatakan potensi kekuatan gempa di selatan Pulau Jawa khususnya Yogyakarta (DIY) masih di bawah potensi kekuatan gempa di barat Sumatra. “Potensi kekuatan gempa di selatan Jawa memang tinggi, mencapai 8 Skala Richter (SR),tetapi masih di bawah potensi di barat Sumatra,” kata Budi,kemarin.Ia mengatakan dalam catatan sejarah gempa di selatan Pulau Jawa,kekuatan gempa paling besar mencapai 8,1 SR di selatan Jawa Barat, dan umumnya gempa di selatan Jawa berkisar 8 SR ke bawah,”katanya.

“Namun potensi gempa dengan kekuatan di atas 8 SR lebih banyak terjadi di barat Sumatra karena berdasarkan penelitian tumbukan antara dua lempeng bumi didaerah ter-sebut memiliki ‘tunjaman’ lebih dalam dibanding selatan Jawa sehingga energi yang terkumpul lebih besar.


Siap perangi malaysia.


JAKARTA - Skema invasi relawan Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) ke Malaysia telah direncanakan dengan matang. Selain telah menyiapkan jalur masuk, mereka juga sudah menentukan target serangan.

Target-target tersebut telah dipetakan dengan baik oleh relawan Ganyang Malaysia. "Kita sudah siap berperang secara fisik dengan Malaysia. Sesampai di Malaysia kita akan mendatangi pusat-pusat pemerintahan serta lokasi-lokasi strategis lainnya," ujar Koordinator Bendera, Mustar Bonaventura di Jakarta, Kamis (8/10/2009).

Sayangnya, Mustar tidak menyebut secara detail objek vital apa yang bakal diincar para relawan Bendera. Adapun Mengenai logistik dan persenjataan, Mustar mengaku pihaknya juga sudah memiliki persiapan. Namun dia tidak mau menyebutkan sumber logistik tersebut. "Untuk masalah dana kami menghimpun sendiri. Tidak ada support dari pihak mana pun," tegas dia.

Sesampai di Malaysia, para relawan juga sudah memiliki basecamp. Di sana sudah ada rekan-rekan mereka yang menjemput. "Tercatat sudah ada 8 ribu TKI di Malaysia yang siap bergabung dengan aktivis Bendera," ungkapnya




Hapsari, pembantu asal Grobogan yang 9 bulan disiksa majikan hingga tewas.


Seorang pembantu rumah tangga tewas setelah dianiaya majikannya selama sembilan bulan. Tubuh korban bahkan terlihat kurus kering karena jarang diberi makan.

Hapsari asal Grobogan, Jawa Tengah, tewas di rumah majikannya di Perumahan Taman Sentosa, Blok D15, Pasir Sari, Cikarang, Kabupaten Bekasi. Dari tubuhnya ditemui dipenuhi luka bekas penganiayaan yang diduga dilakukan Sritian Hastuti, majikannya.

Penganiayaan yang diterima Hasbari sangat beragam. Mulai disundut dengan rokok, disiram air cabai, hingga pemukulan lainya dengan menggunakan sapu.

Penganiayaan terhadap Hapsari terbongkar secara tidak sengaja saat salah seorang petugas kebersihan perumahan setempat bernama Guntur datang. Saat hendak meminta uang kebersihan, Guntur melihat korban tergeletak di lantai dengan mulut dalam keadaan terlakban.

Guntur kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada warga dan polisi. Dalam hitungan menit, puluhan warga berkerumun untuk melihat kepastian berita tersebut.

Namun warga sudah terlambat. Ketika hendak diselamatkan, Hasbari sudah tewas dalam keadaan mengenaskan.

Saat hubungi VIVAnews, Kepala Kepolisian Resort Kabupaten Bekasi, Komisaris Besar Heri Wibowo mengatakan, korban tewas akibat kelaparan karena jarang diberi makan sejak pertama kali kerja.

Penganiayaan yang dilakukan majikannya dilakukan setiap saat dan sudah rutin. Terlihat banyak luka akibat pukulan benda tumpul. Kulit korban juga melepuh akibat tersiram air panas.

"Ini sudah keterlaluan, meski pelaku tidak mengakui perbuatannya, tapi kami punya bukti-bukti yang kuat," ujarnya, Selasa 6 Oktober 2009.

Untuk kepentingan penyelidikan, mayat pembatu yang sudah bekerja selama sembilan bulan itu langsung dikirim ke Rumah Sakit Polri Kramatjati, Jakarta Timur.

"Faktanya ada, liver atau hati korban pecah karena pinggangnya di pukuli setiap hari," ujarnya lagi.

Sementara dari tempat kejadian, petugas menemukan barang bukti berupa, asbak, putung rokok bekas menyundut korban, air cabai dan gagang sapu yang telah patah.

Jenazah korban saat ini masih berada di Rumah Sakit Kramatjati, Jakarta Timur, menunggu keluarganya dan Yayasan Bakti Usaha yang menyalurkannya datang.

Kini Sritian Hastuti, majikan korban telah diamankan polisi untuk menghindari amukan warga yang emosi melihat perlakukan tersangka


Rieke Diah Pitaloka, anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, prihatin dengan nasib Hapsari, pekerja rumah tangga Asal Wonosobo, Jawa Tengah. Rieke (Jawa Barat II) menyatakan, akan memperjuangkan Rancangan Undang-undang Pekerja Rumah Tangga untuk kembali masuk Program Legislasi Nasional agar tak ada lagi "Hapsari-Hapsari baru."

"Peristiwa mengenaskan yang menimpa pekerja rumah tangga (PRT) bernama Hapsari, 39 tahun menjadi bukti kekerasan terhadap para PRT terus saja terjadi," kata Rieke yang dikenal berkat perannya sebagai "Oneng" dalam sitkom Bajaj Bajuri itu.

Rieke menyatakan dalam pernyataan tertulisnya ke VIVAnews, Indonesia memiliki KUH Pidana dan UU Penghapusan KDRT, namun melihat banyaknya kasus serupa yang menimpa PRT di dalam dan di luar negeri, membuktikan bahwa perangkat hukum yang ada tidaklah mencukupi untuk memberikan perlindungan terhadap korban dan efek jera kepada pelaku.

Rieke kemudian menyatakan turut berduka cita sedalam-dalamnya kepada keluarga Hapsari dan mendoakan almarhumah mendapat tempat yang layak di sisi Tuhan. Kedua, Rieke meminta negara harus sungguh-sungguh melindungi setiap warga negara sebagaimana tertuang dalam amanat Konstitusi UUD 1945.

Ketiga, Rieke mendorong RUU Pekerja Rumah Tangga untuk masuk kembali ke dalam Program Legislasi Nasional DPR RI periode 2009-2014 dan menjadi prioritas untuk segera diundangkan. Keempat, Rieke mendesak pihak kepolisian untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan secara tuntas serta mendesak pihak yang berwenang untuk memberikan sanksi tegas pada pelaku.

Penganiayaan Hapsari oleh majikannya telah berlangsung lama. Tidak jelas apa sebabnya, kemaluan korban juga disundut rokok. Kejadian penganiayaan ini akhrinya membuat Hapsari tewas.

"Sekujur tubuh korban penuh luka sayatan dan sundutan rokok. Pada vagina korban juga ditemukan 15 luka sundutan rokok," ujar Kepala Kepolisian Resort Bekasi Kabupaten, Komisaris Besar Heri Wibowo, Selasa 6 Oktober 2009.

Selama bekerja di rumah Sritian Hastuti, Hapsari tidak pernah menerima gaji. Bahkan selama sembilan bulan, dia tidak diberi makan dengan layak. "Ini sudah keterlaluan, meski pelaku tidak mengakui perbuatannya, tapi bukti-bukti sudah kuat," ujar Heri.

Untuk kepentingan penyelidikan, mayat pembantu yang sudah bekerja selama sembilan bulan itu langsung dikirim ke Rumah Sakit Polri Kramatjati, Jakarta Timur. "Faktanya ada, liver atau hati korban pecah karena pinggangnya dipukuli setiap hari," ujarnya lagi.

Saat ini pelaku, Sritian Hastuti, sudah diamankan petugas. Tersangka dikenai empat pasal berlapis yang hukumannya diatas 10 tahun. Sehingga penahanan langsung dilakukan. "Pasal Kekerasan Dalam Rumah Tangga, Penyekapan, Penculikan dan Pasal Penganiayaan berat yang menyebabkan kematian," ujar kapolres lagi.

Sementara itu, sudah lima saksi yang telah dimintai keteranganya dalam peristiwa ini. Mereka adalah suami pelaku, petugas kemanan, tukang kebun, penyalur pembantu dan dokter ahli forensik.